Posted by: Yoga PS | 8 July 2012

Jakarta dan “Momo” Didalamnya

Jakarta. Kota tua, empat ratus delapan puluh lima tahun umurnya. Ibukota Indonesia. Pusat bisnis. Pusat administrative. Pusak kekuasaan. Pusat segalanya.

Sudah genap sembilan bulan saya berada di kota ini. Seharusnya bentar lagi saya melahirkan donk ya hehehe. Ternyata, Jakarta tidak seseram yang terbayang sebelumnya. Maklum, saya manusia diaspora. Lahir di Sulawesi, sekolah di Sidoarjo, kuliah di Yogyakarta, dan akhirnya belajar sambil bekerja di Jakarta.

Setiap kota unik. Maros, tempat saya lahir, sudah semakin maju ketika saya berkunjung kesana. Dulunya sepi sekali. Sidoarjo, kota sub urban Surabaya yang didominasi daerah residential dan industry. Hawanya panas minta ampun. Yogyakarta termasuk yang paling nyaman. Enak buat berkembang dan belajar tentang hidup. tak rugi dijuluki kota pelajar. Biaya hidup juga terjangkau. Cuma di Yogyakarta, saya mahasiswa yang hidup bersama garis kemiskinan bisa berpuas-puas ria menyambangi acara kesenian, seminar, kuliah umum, dan pagelaran budaya. Hebatnya: semuanya gratis.

Jakarta? Pertama kali mendengar keputusan jika harus berada di Jakarta sempat terbersit kota yang kejam, padat, kumuh, dan tidak bersahabat. Ternyata tidak sepenuhnya benar. Tapi juga tidak sepenuhnya salah. Mungkin karena saya berada di sisi ramah Jakarta. Beraktivitas di kawasan perkantoran yang dikepung mall membuat Jakarta terlihat megah, mewah, dan tak pernah merasakan gerah.

Tapi tetap saja selalu ada dua sisi mata uang. Kemacetan sudah pasti. Kemiskinan boleh jadi. Saya pernah mengalami sendiri. Ketika menunggu kereta di stasiun Manggarai. Seorang anak laki-laki kecil meminta coklat yang sedang saya nikmati. Coklat murahan dan biasa-biasa saja. Saya bergeming. Tapi dia terus merengek, membujuk, meminta.

“Kak.. Lapar… Minta buat makan…” rujuk sang anak.

Hingga sang anak menangis. Benar-benar menangis. Entah kelas drama apa yang diikuti sang anak, yang jelas air matanya berguguran. Benar-benar air mata. Bukan air mata buaya politisi kita. Dan ternyata saat Indonesia termasuk anggota G-20, masih ada rakyatnya yang menangis kelaparan. Hanya untuk coklat seharga ribuan rupiah, seorang anak harus membasahi mata untuk mendapatkannya. Sebuah kontradiksi dimana kita menghabiskan puluhan hingga ratusan ribu rupiah untuk sekedar makan siang.

Ibukota tidak kejam. Ia hanya memaksa warganya untuk berjuang untuk menang. Dengan kerja keras sebagai harganya, dan penderitaan untuk pemanisnya. Untuk apa terus berfikir negative. Penderitaan akan menjadi pembelajaran jika kita mampu memberikan makna didalamnya. Karena saya merasa ada beberapa manfaat yang saya dapatkan. Pembelajaran kehidupan ala urban.

Yang pertama tentu saja pelajaran kesabaran. Hal ini dipicu masalah kemacetan. Dari pagi sampai larut malam, macet tak pernah absen. Rekor saya masih biasa jendral, cuma waktu 4 jam untuk pulang. Seorang teman pernah mencapai 8 jam!!! Satu jam untuk menunggu taksi. Saya yang menyerah akhirnya memilih naik busway ke stasiun. Satu setengah jam dipakai. Satu jam untuk perjalanan kereta yang biasanya hanya 15-20 menit. Dan setengah jam berikutnya untuk mencari ojek ditengah malam yang dingin ditemani hujan rintik-rintik.

Pilihan mental untuk situasi ini hanya dua: stress atau bersabar. Dan karena stress tidak ada gunanya, saya rasa bersabar lebih baik. Macet adalah latihan kesabaran yang luar biasa. Hanya lewat kemacetan orang Jakarta belajar tentang antrian. Terkadang agak susah membedakan macet dan parkir. Mobil tidak bergerak. Pada awalnya saya mengeluh. Tapi pada akhirnya, saya tersenyum. Karena setiap macet berarti ada waktu untuk membaca, bermain games, dan berkontemplasi. Nikmati saja.

Hampir semua ekspatriat yang saya temui mengeluhkan macet sebagai setan pengganggu. Bahkan banyak yang karena tidak kuat main kopling, pegas, rem, akhirnya memilih menggunakan supir. Yah itung-itung membuka lapangan kerja. Bahkan sebuah media asing pernah menyarankan untuk selalu membawa pispot didalam mobil jika anda sedang berkendara di Jakarta.

Pelajaran selanjutnya tentu soal penghargaan waktu. Orang Jakarta sangat menghargai waktu. Mereka bangun pagi-pagi sekali dan berangkat lebih awal. Sejak tinggal di kota ini, saya berangkat 2 jam sebelum acara. Terkadang bisa 3-4 jam sebelumnya. Sesuatu yang mustahil saya lakukan ketika masih kuliah atau tinggal di Sidoarjo. Terkadang saya berpikir, jangan-jangan ada Momo sang pencuri waktu seperti didalam novel Michael Ende. Karena sangat banyak waktu terbuang dengan mobilitas yang terbatas.

Inilah wajah Jakarta. Kota yang terbuka dan menjanjikan segalanya. Disini pintu mobilitas social sangat terbuka. Kita bisa menjadi orang hebat dengan menjadi CEO, professional, budayawan, berjualan warteg, jadi pengusaha besi bekas, hingga pengemis sekalipun. Peluang bisnis sangat terbuka. Tinggal bagaimana mengeksekusinya.

Hari Rabu adalah hari pemilihan pilkada. Saya tidak memilih. Dan tidak ingin memilih. Yang jelas, saya masih belajar mencintai Jakarta. Mencintai kemacetannya, polusinya, kriminalitasnya, kemiskinannya. Seperti orang-orang yang mencintai bisnis, perbelanjaan, perputaran uang, dan pusat kekuasaan di dalamnya. Saya ingin mencintai Jakarta seperti kota-kota dalam kehidupan saya sebelumnya.


Responses

  1. Kata Jakarta menurut buku Api Sejarah berasal dari peristiwa penghalauan penjajah portugis oleh ulama dan santri.. Sehingga dinamai Jakarta (Jaya Karta) atau Fathan Mubina, kemenangan paripurna. Tulisan ini melahirkan tulisan baru, dimanakah persepsi kaum Betawi? Bagaimana persepsi mereka

    Ill wait and see..🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: