Posted by: Yoga PS | 28 October 2012

Tiga Pemuda Batu

Sumpah pemuda pasti ngomongin pemuda. Ga mungkin kan ngomongin kakek tua. Kami, pemuda Indonesia berbangsa satu, berbahasa satu, dan beristri satu bla bla bla gitu deh.. pasti bosen kan klo saia nulis begituan? Karena itu saya Cuma mau sharing cerita rakyat Himalaya tentang Para Pangeran Berubah Menjadi Batu. Cerita ini saya cuplik dari Si Gajah dan Sekumpulan Semut karya Eurice de Souza. Buku berisi kumpulan cerita rakyat India. Cekidot bro:

ronosaurusrex.com

Pada suatu masa, hiduplah seorang raja yang memiliki tiga orang putra. Sang raja sering meminta ketiga putranya berkuda mengelilingi kerajaan untuk mengetahui keadaan rakyatnya.

Suatu hari, ketika putra sulung tengah berkuda melewati sebuah hutan, ia melihat empat ekor kuda yang gagah sedang merumput di pinggir sebuah kolam. Seorang pertapa mengawasi kuda-kuda itu selagi mereka merumput.

“Tuan”, kata pangeran seraya berjalan mendekati pertapa itu, “Mereka adalah kuda-kuda tercantik yang pernah saya lihat. Bolehkah aku menunggangi salah satu kuda ini sebentar saja?”

“Tentu saja boleh”, jawab sang pertapa. “Pilih satu kuda yang paling kau sukai dan silakan tunggangi sepanjang hari ini. Tetapi, kau harus kembali sebelum sore, dan ceritakan petualanganmu kepadaku serta apa artinya. Jika tidak, aku akan mengubahmu menjadi pilar batu”.

Sang pangeran merasa sangat senang. Ia menaiki seekor kuda dan pergi menungganginya. Selagi berkuda, pangeran melewati sepetak kecil kebun sayur mayor yang dipagari dengan papan kayu yang panjang dan tajam sehingga tidak bisa dimasuki oleh siapa pun. Ketika ia berhenti untuk melihat-lihat tempat itu, betapa terkejutnya sang pangeran melihat papan kayunya berubah menjadi sabit yang kemudian bergerak memangkas sayur mayor didalam kebun.

Bingung dan ketakutan, pangeran berkuda pulang secepat mungkin untuk kembali ke pinggir kolam, dan ia pun menceritakan kepada pertapa apa yang telah ia lihat.

“Apa arti kejadian itu?” tanya pertapa.

“Aku tidak tahu” jawab pangeran. “Kupikir justru Tuanlah yang akan menjelaskan artinya padaku”

“Tidak tahu!” seru pertapa. “Bagaimana mungkin kau bisa memimpin sebuah kerajaan jika kau tidak bisa memahami bahkan untuk hal-hal yang paling sederhana? Kau akan berubah menjadi batu karena kebodohanmu”.

Segera setelah kutukan itu diucapkan oleh pertapa, pangeran berubah menjadi sebuah pilar batu.

Keesokan harinya, pangeran kedua berkuda menuju untuk mencari kakaknya, dan ia pun bertemu dengan pertapa di pinggir kolam beserta keempat kuda yang sedang merumput. Sama seperti kakaknya, pangeran kedua juga bertanya kepada pertapa apakah ia boleh menunggangi salah satu kuda itu, dan sang pertama pun menyebutkan syarat yang sama.

“Aku sudah beribu-ribu kali berkuda melewati daerah ini” kata pangeran. “Dan, aku tidak pernah melihat sesuatu yang aneh”.

“Kita lihat saja nanti” balas pertapa, dan pangeran kedua pun berkuda ketempat yang jauh.

Beberapa jam kemudian, ia kembali.

“jadi bagaimana?” tanya pertapa. “Apakah kau melihat sesuatu yang aneh?”

“Oh, iya” jawab pangeran. “Aku bertemu dengan seorang lelaki tua yang membungkuk dengan sangat rendah karena harus memikul cukup banyak kayu. Aku menawarkan diri untuk menolongnya tetapi ia tidak memberi jawaban. Lelaki tua itu tetap saja menambah jumlah beban kayunya”.

“Kenapa ia melakukan hal itu?” tanya pertapa.

“Aku benar-benar tidak tahu” jawab pangeran. “Lelaki itu tidak mau berbicara denganku jadi aku tidak menanyakan apa alasannya”.

“kau sama bodohnya seperti kakakmu”, tukas pertapa. “Kau juga tidak punya kemampuan untuk memimpin sebuah kerajaan”. Dan, pertapa itu pun mengubah pangeran kedua menjadi batu.

Keesokan harinya, pangeran ketiga berkuda memasuki hutan, bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada kedua kakaknya. Sama seperti kedua pangeran sebelumnya, ia bertemu dengan pertaa serta keempat kudanya di pinggir kolam.

“Tuan” kata pangeran kepada pertapa itu. “Kedua kakak saya berkuda ke hutan ini dan mereka belum kembali. Apakah Tuan pernah melihat mereka?”

Pertapa kemudian menceritakan kejadian yang telah menimpa kedua kakaknya dan memberitahu pangeran bahwa ia bisa menyelamatkan mereka jika bersedia melakukan “petualangan” yang sama. Pangeran muda merasa takut, tetapi ia tahu bahwa ia harus mencoba melakukannya. Maka, pangeran pun berkuda sama seperti kakak-kakanya seraya memikirkan bagaimana nasibnya nanti.

Ketika sedang berkuda, secara kebetulan pangeran melihat sebuah kolam yang tumpah ruah dengan air sampai-sampai memenuhi semua lubang yang ada di tanah di sekitarnya. Sang pangeran turun dari kudanya dan membiarkan si kuda minum dan merumput selama beberapa waktu. Selagi menunggu, ia melihat kolam itu tiba-tiba mengosongkan semua airnya.

Dalam perjalanan pulang ia memberitahu pertapa kejadian yang telah dilihatnya. Tetapi ketika ditanya, ia tidak bisa menjelaskan apa makna di balik kolam yang tumpah ruah dengan air itu. Maka ia pun diubah menjadi batu.

Beberapa hari telah berlalu. Raja merasa sangat gelisah memikirkan ketiga putranya. Ia kemudian mengirim sejumlah kurir untuk mencari mereka di daerah pedesaan, tetapi tidak seorang pun yang berhasil mendapat kabar tentang ketiga pangeran. Akhirnya, raja tidak bisa menahan diri lagi sehingga ia pun memutuskan untuk pergi mencari sendiri. Raja berkuda memasuki hutan dan bertemu dengan pertapa di pinggir kolam.

“Pertapa” ujar raja, “Aku sedang mencari ketiga putraku yang hilang. Bisakah Tuan menolongku?”

“Itu mereka”, kata pertapa seraya menunjuk ke arah tiga buah pilar batu.

“Apa maksudmu?” tanya raja bingung.

“Aku mengubah putra-putramu menjadi batu karena ketiganya tidak bisa menjawab pertanyaan yang kuajukan kepada mereka. Mereka tidak akan bisa menjadi raja yang baik. Aku akan menghidupkan mereka, bagaimanapun, jika Baginda Raja bisa menjawab beberapa pertanyaanku.”

“Apa pertanyaannya?” tanya raja. “Aku akan mencoba untuk menjawabnya”.

“Putra tertua Baginda”, kata pertapa, “melihat sebuah kebun yang dikelilingi oleh pagar yang tebal. Pagar kayu itu kemudian berubah menjadi sabit dan memotong sayur-sayuran di dalam kebun. Apa arti kejadian itu?”

“Jawabannya sederhana,” balas raja. “Pagar itu berdiri disana untuk melindungi sayur-sayuran yang ada di dalam kebun. Sama seperti seorang pelayan akan menjaga barang-barang milik sang tuan yang memang menjadi bagian dari tanggung jawabnya. Pagar yang berubah menjadi sabit dan memotong sayur-sayuran itu sama seperti pelayan jahat yang merusak property milik tuannya”.

“Pangeran kedua melihat seorang lelaki membungkuk sangat rendah karena beban kayu yang dipikulnya,” kata pertapa, “Meski pun lelaki itu sudah tua dan membungkuk sangat rendah, ia tetap saja menambah jumlah kayu untuk dipikul. Apa arti kejadian itu?”

“Itu menggambarkan seseorang yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Ia akan selalu menginginkan lebih banyak lagi,” jawab raja,

“Putra ketiga Baginda Raja,” lanjut pertapa, “melihat sebuah kolam yang tumpah ruah dengan air, tetapi lalu mengosongkan dirinya untuk mengairi tanah di sekitar. Apakah arti kejadian itu?”

“Hal itu menggambarkan seseorang yang hidup berfoya-foya” jawab raja. “Ia banyak menghabiskan kekayaannya untuk mengadakan perjamuan, pesta, serta hal-hal yang tidak penting lainnya. Akhirnya harta orang itu habis tidak tersisa sepeser pun”.

Segera setelah raja selesai memberikan penjelasan, ketiga pangeran telah berdiri di hadapannya. Dan ia meminta sang pertapa untuk menjadi guru bagi putra-putranya.

Pesan moral: waspadalah terhadap orang tua ditengah jalan


Responses

  1. Bernas!!
    Yoga banget hehe

  2. Setuju ama pesan moralnya😀

  3. Bernas tu apaan? Benar-benar naas??

  4. Apa mau jadi pangeran keempat???😛

  5. hahahahahaa… pesan terakhirnya maknyus😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: