Posted by: Yoga PS | 4 November 2012

Elephant Can Run!

Jika Louis Gerstner menulis Who Says Elephants Can’t Dance? pada 2002 yang membahas proses turnaround IBM dan pembuktian jika big size tidak selalu berarti gemuk, lambat, dan malas, maka hari ini (4 November 2012) saya membuktikan jika elephant juga bisa berlari.

Yah, alhamdulilah untuk pertama kalinya dalam hidup saya, ikut event lomba lari 10 kilometer! Rutenya mulai dari monas hingga jembatan semanggi. Total waktu yang saya tempuh mencapai 1 jam 37 menit dengan kecepatan rata-rata 8 km/jam untuk jarak 13.18 km (versi GPS  Endomondo).

Statistik dari Endomondo

Bagaimana rasanya? Well, boleh percaya boleh nggak, saya enggak merasa terlalu capek! Loh, koq bisa? Apa rahasianya?

Endorphin

Kuncinya adalah bagaimana kita mengatur ritme lari kita. Karena jarak yang ditempuh lumayan jauh, critical pont ada di kemampuan untuk bertahan dan konsisten. Endurance and perseverance. Dan untuk bertahan lama, kita tidak boleh terlalu memforsir tubuh. Cukup berlari di level dimana kita merasa nyaman dan santai, dan jangan pernah memaksa tubuh!.

Untungnya system biologi badan kita mempunyai hormon endorphin. Menurut beberapa orang pintar (yang ga minum tolak ang*n), endorphin akan keluar ketika kita berolahraga untuk jangka waktu yang agak lama. Hormon ini memberikan sensasi gembira dan membuat kita mampu bertahan dalam sebuah aktivitas fisik serta memberikan kemampuan tubuh kita untuk berada pada level lebih tinggi.

Seperti copy paste dari Wikipedia:

A publicized effect of endorphin production is the so-called “runner’s high”, which is said to occur when strenuous exercise takes a person over a threshold that activates endorphin production. Endorphins are released during long, continuous workouts, when the level of intensity is between moderate and high, and breathing is difficult. This also corresponds with the time that muscles use up their stored glycogen. During a release of endorphins, the person may be exposed to bodily harm from strenuous bodily functions after going past his or her body’s physical limit. This means that runners can keep running despite pain, continuously surpassing what they otherwise would consider to be their limit. Runner’s high has also been known to create feelings of euphoria and happiness.

Ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil dari lomba lari siang ini:

  1. Small effort with continues effect is better than huge effort in the beginning but end of nothing. Busyet, barusan saya nulis apaan sih? Bentar ya pinjem google translate. Oh ya, maksudnya lari kecil yang konsisten lebih bagus daripada lari kencang di awal, jalan kaki, lari lagi, jalan lagi. Karena apa? Karena Anda pasti capek! Cukup berlari dikecepatan yang tidak membuat Anda lelah dan terus berlari di level itu dan jangan pernah berjalan kaki!
  2. Preparation is everything. Karena sebelum event ini saya sudah berlatih dengan jarak yang lebih sama di sekitar tempat tinggal saya. Juga, hampir setiap hari saya lari. Lari ke warung terdekat maksudnya. Dan biasanya 3 km/hari, 4 kali seminggu. Sebelum ikut lomba ini saya juga sudah mempersiapkan asuransi jiwa jika ada apa-apa :p.
  3. Mindset is “genset”. Banyak orang tidak bisa melakukan sesuatu, karena mereka berpikir jika tidak bisa melakukan hal itu. Wah lari 10 kilo apa tahan? Pasti capek. Gila lu Ndro, lari 100m aja ngos-ngosan. Pola pikir seperti ini yang biasanya menjadi mind block. Dan saya percaya, untuk berlari 10km di dunia nyata, kita harus “mampu berlari” di alam pikiran kita.

Well, that’s it. The winner for this race was Kenyan!!! Since they have winner on 1st, second, and third place (untuk kategori umum). Setelah saya pikir-pikir, wajar aja orang Kenya bisa menang. Sono kalo latihan sparring partnernya ama cheetah sih :p.

Pelari asal Kenya juara 1-2-3

Sampai ada quote dari Maurice Greene:

“Every morning in Africa a gazelle wakes up. It knows it must move faster than the lion or it will not survive. Every morning a lion wakes up and it knows it must move faster than the slowest gazelle or it will starve. It doesn’t matter if you are the lion or the gazelle, when the sun comes up, you better be moving.”

Next target in 2017: ikutan marathon!!!.


Responses

  1. Yoga aja bisa…emak2 berbuntut satu yang makin mengembang ini juga pasti bisa dong ya…hehehe..semangat!!!

  2. wah buntut apaan nih hehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: