Posted by: Yoga PS | 11 November 2012

Kontradiksi

Captain Indonesia from na9a.com

Menyebut kata “pahlawan” berarti menyebut sebuah kontradiksi. Ada pertentangan. Ada perdebatan. Ada pertarungan. Karena pada dasarnya, arti pahlawan sendiri bersifat relative, dan kalau boleh saya bilang, sedikit absurd.

Apakah Soekarno pahlawan? Bagaimana dengan Sultan Hassanudin? Pangeran Diponegoro? Atau Imam Bonjol? Bagi kita, sebuah bangsa yang berusaha untuk berdiri di kaki sendiri, mereka adalah penyelamat bangsa. Tapi cobalah berpikir jika Anda seorang colonial yang lahir pada awal tahun 1900-an, maka nama-nama yang saya sebut adalah kaum renegade. Rebellion. Pemberontak. Pengacau ketertiban dan keamanan.

Karena sesungguhnya kepahlawanan bersinggungan erat dengan kekuasaan. Dan kekuasaan beririsan dengan kepentingan. Apa menjadi pahlawan untuk apa. Siapa menolong siapa. Karena hidup selalu punya dua sisi. Seseorang bisa menjadi pejuang bagi sebuah kaum, tapi bisa dianggap pemberontak bagi Negara lain. Ia bisa menjadi pemenang di malam hari, lalu berubah menjadi pecundang pada pagi hari.

Kita dan Mereka

Bagi kita, Deandels itu perampok. JP Coen itu penghisap. Pieter Both sang pemimpin pertama VOC adalah pemerkosa bangsa. Tapi bagi mereka, nun jauh di Negara yang lautnya lebih tinggi daripada darat, nama-nama diatas adalah pahlawan. Mereka mengeluarkan Belanda dari kesulitan keuangan, menggemukkan kas Negara, dan menjadi penyelamat bangsa.

Bagi kita Kartosuwiryo itu begundal pemberontak, Ramos Horta itu perusak integritas bangsa, Hasan Tiro pengganggu stabilitas semata. Tapi bagi mereka, yang merasa NKRI dan Pancasila tidak sejalan dengan hasrat didalam jiwa, mereka adalah pejuang Tuhan yang dikirim oleh semesta.

Mari berandai-andai. Jika Jerman memenangkan perang dunia II, mungkin Hitler akan dielu-elukan sebagai pahlawan perdamaian. Jika proklamasi RI gagal, mungkin Soekarno-Hatta “hanya” akan menghiasi daftar nama pemberontak di catatan sejarah kerajaan Hindia Belanda.

Karena sesungguhnya definisi kepahlawanan selalu melalui seleksi proses “politik”. Karena sejarah harus selalu terdistorsi oleh kekuasaan. Karena nilai baik-benar kemanusiaan akan selalu bersifat nisbi, bergantung pada siapa yang memandang. Semua tergantung disisi mana kita berdiri.

Batman

Batman dapat menjadi cerita yang menarik. Pada 1986 Frank Miller menulis The Dark Knight Returns. Visual novel yang bercerita kembalinya Bruce Wayne tua dari “masa pensiun”. Film animasinya yang terbit di 2012 baru saya tonton beberapa bulan lalu. Bercerita tentang Gotham yang dikuasai para begundal yang disebut “mutant”.

Batman yang melakukan perannya sebagai “vigilante”, pembasmi kejahatan tanpa mengenal aturan, justru harus berhadapan dengan penegak aturan itu sendiri: polisi, hingga anggota justice league yang lain: Superman. Ia dimusuhi oleh tiga pihak sekaligus: Ellen Yindel, komisaris polisi pengganti Gordon. Joker yang mampu lolos dari penjara. Dan Presiden Reagen yang memerintahkan Superman untuk menghabisinya.

Dari sini, peran “kepahlawanan” Batman semakin absurd. Ia ingin memberantas kejahatan, tapi justru dimusuhi mereka yang mengaku sebagai pembasmi kejahatan. Ibarat perang, Batman tidak berdiri di sisi kanan atau kiri. Ia mengambang. Berpihak pada kebenaran, tapi dianggap oleh otoritas kebenaran (polisi), sebagai pahlawan kesiangan yang tidak mengerti asas hukum. Ia pada akhirnya, menjadi musuh semua pihak. Baik oleh polisi, atau kaum penjahat itu sendiri.

Pada akhirnya dunia tidak membutuhkan Batman. Di akhir cerita, Batman harus memalsukan kematiannya setelah bertarung dengan Superman. Ia kembali ke gua persembunyiannya dengan penuh luka untuk mencari pengganti dirinya sebagai “pahlawan alternatif”.

Manusia mungkin tidak butuh Batman. Tapi manusia butuh cerita. Kita butuh idola. Sebuah wadah dimana nilai-nilai ideal ditanamkan. Sarana mimpi yang direpresentasikan. Karena kita belajar dari meniru. Proses pembelajaran social yang paling dasar.  Dan Anda juga tahu, pemikiran manusia itu seperti panggung teater. Membutuhkan lakon. Ia selalu terpesona olah drama, cinta, dan tentu saja: konflik.

Untuk itulah pahlawan perlu ada. Mereka memberikan pertunjukan tentang resolusi konflik. Dunia tanpa pahlawan seperti membayangkan dunia tanpa mitos. Semuanya menjadi datar, logis, dan tidak dipenuhi dinamika kemungkinan. Pahlawan hadir mendobrak dan menawarkan kemungkinan. Kemungkinan, bisa berkembang menjadi kepercayaan. Dan kepercayaan, akan berubah menjadi keyakinan.

Lalu, mengapa Indonesia yang merayakan hari pahlawan setiap tahun tetap saja tidak memiliki “pahlawan” yang mampu membawa bangsa ini dari keterpurukan?

Kita bukannya tidak memiliki. Kita hanya belum mengetahui.


Responses

  1. kita bukannya tidak memiliki pahlawan, tapi kita hanya belum mengetahuinya…kutipan yang bagus pak yoga.

  2. makasih boss


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: