Posted by: Yoga PS | 18 November 2012

Dari Atas Tumpukan Sampah: Menulis Adalah Menangis

-sepucuk surat untuk adik.

 Oleh: Khoer Jurzani*)

Cover Adam Kaisinan

  Jika menulis adalah tangis, rumah kita pasti sudah tenggelam.  Karenanya, kita beruntung memiliki bapak seorang pemulung. Ya karena profesi bapaklah setiap hari ada saja bahan bacaan gratis untuk kita; Koran dan majalah bekas, buku bekas. Sejak kecil kita sudah akrab dengan Si kuncung, Bobo, Si kembar O Sullivan, Garfield, Donal bebek. Sebab kita tidak memiliki banyak mainan seperti anak-anak lain, mainan kita adalah apa yang ada di dalam imaji kita, gambar-gambar berbicara, tulisan-tulisan mengajak kita menari.

Ketika bapak mulai sibuk dengan pekerjaan dan ibu sering membentak serta menyembunyikan buku-buku bacaan, entah kenapa ibu tidak suka sekali melihatku membaca seharian, aku pun mulai menulis. Tulisan pertamaku adalah puisi, mengenai ibu tiri.

Kakak tidak yakin apakah kakak bisa bertahan hidup sampai sekarang kalau Pak Cevi, Guru Madrasah Ibtidaiyah, tidak meminjami kakak novel dengan judul Dokter Widi, sebuah buku berlabel Milik Departeman P dan K, Tidak diperjualbelikan itu adalah buku pertama yang membuat kakak menangis. Sejak saat itu Pak Cevi selalu meminjami kakak buku-buku cerita. Kakak masih ingat, waktu kelas enam MI, kakak mulai mencoba membuat cerita bersambung, yang tiap hari kakak bagikan ke teman-teman sekelas.

Apakah kamu percaya, jika ada sebuah sekolah paling aneh di dunia, tidak ada guru, tidak ada murid, yang ada rerumput kering dan bangunan kusam. Seorang laki-laki kecil tiap hari berada di dalamnya, kesepian. Guru dan murid hanya berdatangan pada saat menjelang ujian. Tidak ada pelajaran. Tidak ada ilmu yang didapatkan.

Engkau beruntung bisa belajar di SMP negeri Dik, tidak berada di Madrasah Tsanawiyah di dasar jurang itu. Hingga untuk meyakinkan bapak dan ibu bahwa aku benar-benar berangkat ke sekolah, tiap hari aku pergi ke

Perpustakaan Umum kota, sampai waktu, di mana sekolah lain usai dan murid-muridnya pulang.

Di  Perpustakaan umum itulah kakak mengenal puisi-puisi Acep Zamzam Noor, cerpen Joni ariadinata, novel Dewi Lestari, Asma Nadia, Hamka, Chairil Anwar, bahkan Fredy Siswanto! Waktu kelas Tiga Mts. Itu kakak menulis puisi, judulnya Khusnul Khotimah, yang tidak jadi kakak kirim ke Mading Masjid agung Kota Sukabumi karena Madingnya tidak pernah terbit lagi, lalu kakak simpan baik-baik di buku harian.

Kakak tidak pernah mengira, sejak Pak Cevi meminjami novel Dokter Widi, kata-kata terus mengikuti ke mana pun langkah kaki pergi. Bahkan ketika kakak lulus dari sekolah aneh itu dan harus pergi dari rumah lalu tinggal di rumah nenek.

Apakah engkau tahu, saat anak-anak lain meneruskan pendidikan ke SMA, kakakmu jualan asongan di pasar? Ya engkau tahu. Di mana pun aku selalu menulis dik, di sudut-sudut gang kumuh, di antara gemuruh kendaraan dan debu beterbangan, kakak menulis di atas kertas timah pembungkus rokok, yang isinya sudah habis dijual. Kadang kakak menulis di atas kayu milik penjual ketupat sayur, kadang di emperan toko, kadang di rel kereta api.  Tapi kakak tetap yakin suatu saat bisa bertemu Acep Zamzam Noor, bisa memiliki trofi, bisa sekolah lagi.

Ah tahukah kamu Dik, berkat keyakinan itu satu-satu mimpi kakak terwujud. Kakak bisa sekolah di SMA terbuka, puisi yang tidak jadi kakak kirim ke Mading itu jadi juara pertama lomba membuat puisi antar pelajar se-kota Sukabumi, meski trofinya tidak pernah bisa hadir ke rumah, waktu itu kakak merasa tidak memiliki rumah, trofi itu kakak titipkan ke sekolah. Kakak pun bersyukur ketika pindah ke Cianjur dapat mengenal sahabat-sahabat yang baik di Forum Lingkar Pena dan Komunitas Sastra Cianjur. Ya, di Cianjur ini kakak dapat bersua dengan Acep Zamzam Noor, penyair yang dulu hanya kakak baca sajak-sajaknya di buku!

 Ah Dik, kakak baru kemarin belajar internet, mengetik di komputer, menulis di blog dan catatan facebook, sesekali mengikuti berbagai lomba menulis, sesekali mengirim karya ke media cetak, meski tidak pernah dimuat, sebelumnya kakak banyak menulis di buku harian, kakak memang tidak seberuntung dirimu yang banyak belajar berbagai hal di sekolah! Hal yang paling membuat bangga kakak adalah ketika Ibu Hanna Fransiska mengumumkan pemenang lomba menulis puisi tentang ibu, nama kakak muncul sebagai 10 nomine, berdampingan dengan penyair yang kakak kagumi selama ini, ada M Aan Mansyur, Faisal Syahreza, Sunlie Thomas Alexander, Pringadi Abdi surya, Isbedy Setiawan, dua jurinya antara lain Acep Zamzam Noor dan Joni ariadinata.

Tapi adik, tidak semua orang menyukai apa yang kita tulis, airmata di atas kertas bisa membuat orang lain berang, seseorang bisa diculik, dipenjara, diperkosa, dibunuh, diracun hanya karena apa yang tertuang dari pikirannya.  Seperti ibu tiri kakak, ibumu, yang menemukan buku harian berisi curahan hati kakak, kemudian dengan tulisan itu beliau mengusir kakak dari rumah. Itu terjadi selepas kakak lulus Madrasah Tsanawiyah.

Adik, engkau saudari terbaikku. Meski kita tidak lahir dari satu rahim, hanya bapak kita yang sama, namun bagaimana pun kakakmu ini sangat menyayangimu.

 Jika menulis adalah bulir-bulir tangis, barangkali sekarang ia sudah menganak sungai, terus mengalir ke tempat jauh.

*)Tulisan ini saya cuplik dari buku kumpulan puisi “Senter Adam Kaisinan” karya Khoer Jurzani, sastrawan muda berbakat yang saya yakini akan jadi penulis besar suatu saat nanti. 


Responses

  1. kenapa judulnya senter adam kaisinan?🙂

  2. coba tanya ama orangnya langsung tante hehehe

  3. Gambar-gambarnya apakah ada hubungan dengan cerita? Itu penulisnya kah?

  4. Iya tante🙂 Tapi penulisnya sekarang udah jadi guru SMA di Sukabumi sekaligus nyambi kuliah di Cianjur

  5. fuck! FUCK! he IS talented!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: