Posted by: Yoga PS | 3 February 2013

Sapi Hitam

 

Berdasarkan penilaian saya, ada tanda utama untuk membedakan mana organisasi baik dan organisasi busuk. Apa itu? Sederhana saja, culture organisasi tentang kesalahan.

Di organisasi yang baik dan hebat, kesalahan dianggap sebuah pembelajaran. Mereka menyimpan file-file “kegagalan” yang telah terjadi (bahkan ditulis dalam bentuk power point!), disertai pembelajaran dan feedback yang bisa dilakukan penerus dimasa depan. Tidak ada kambing hitam personal. Ini kesalahan si A, manager B, atau supplier C. Kesalahan ada pada tindakan, bukan personal.

Sebaliknya, di organisasi busuk menyalahkan adalah sebuah kelaziman. Dan biasanya, yang menjadi kambing hitam adalah factor eksternal. Saya pernah membaca laporan keuangan sebuah perusahaan yang telah rugi bertahun-tahun. Dan di sambutan direksinya, dia menyebut perusahaan merugi karena imbas krisis Eropa!. Memang krisis mempengaruhi bisnis secara global, tapi setelah 2 tahun berlalu apakah manajemen tidak bisa mencari alternative diversifikasi pasar?

Demikian juga dengan masyarakat kita. Sangat suka menyalahkan, ditambah demen banget bikin alasan. Saya merasa kebiasaan menyalahkan dan mencari alasan ini membuat bangsa kita ga maju-maju. Contohnya saat banjir, yang pendukung gubernur lama menyalahkan gubernur baru karena dianggap ga becus, sedangkan gubernur baru menyalahkan gubernur lama karena memberikan warisan permasalahan. Ribut sendiri deh.

Elite politik juga gitu. Bos-nya ditangkap aparat penegak hukum, ujung-ujungnya lari ke konspirasi jionis lah, Wahyudi lah, Remason lah. Sibuk mencari sapi hitam (bosen pake kambing). Pokoknya kalo ada kesalahan, itu pasti karena factor eksternal.

Cerita tentang raja yang bodoh dari Eurice de Souze ini mungkin bisa menjadi pembelajaran. Ketidakmampuan melihat akar permasalahan dan kebiasaan menyalahkan bisa menjadi sumber kehancuran.

Raja yang Bodoh

Suatu hari seorang guru mengajak muridnya berjalan2 ke negeri yang terkenal akan kebodohan rajanya. Sang guru ingin memberikan pelajaran kepada muridnya, tentang akibat dari kebodohan itu sendiri. Kebetulan, saat mereka sampai di alun-alun kota, sedang diadakan pengadilan rakyat.

Dua orang wanita berjalan maju ke depan.

“Tuanku”, kata mereka kepada raja, “Kami menginginkan keadilan. Beberapa minggu lalu suami kami mencoba memasuki rumah seorang pedagang ketika ia sedang bepergian ke desa lain. Selagi mencoba membuat lubang yang cukup besar untuk dilewati, tembok runtuh dan membunuh suami kami. Jika rumah itu tidak tua dan sangat lapuk, suami kami tentu tidak akan terbunuh. Kami ingin pedagang itu dihukum karena merampas nyawa suami kami”.

Bukannya mempertanyakan alasan suami wanita memasuki rumah pedagang, Raja langsung memanggil pedagang untuk menghadap. “Tuanku, tembok yang runtuh itu bukan salahku. Tahun lalu aku memanggil tukang batu untuk memperbaikinya, dan dia tidak melakukannya dengan baik. Hukumlah si tukang batu”.

Maka, raja membebaskan pedagang, kemudian memanggil tukang batu yang dianggap lalai melakukan pekerjaannya. “Kenapa aku yang disalahkan? Ini semua kesalahan tukang air yang jahat itu. Ia menuangkan terlalu banyak air kedalam campuran bahan saat aku tidak melihatnya, sehingga tembok menajdi tidak kuat dan tahan lama”. Sanggah si tukang batu.

Tukang air pun dipanggil. Dan tanpa pembelaan apa-apa, Raja memberikan perintah:

“Gantung dia! Aku sudah lelah dengan semua pembelaan. Keadilan harus ditegakkan, ada yang harus dihukum!”.

Semua orang terkejut. Tapi mereka tidak berani berbuat apa-apa. Raja terkenal kejam dan ditakuti rakyatnya.

“Ayo kita pergi saja” pinta pengikut sang guru. “Hanya Tuhan yang tahu apa yang dilakukan oleh raja gila ini”.

Tetapi ketika mereka tengah berjalan pergi, salah seorang pengawal menghampiri sang guru dan menariknya dengan kasar.

“Hey apa-apaan ini? Ada masalah apa?” tanya sang guru. Dia merasa tidak bersalah dan melakukan tindakan melanggar hukum.

“Tak masalah” kata pengawal. “Simpul talinya terlalu longgar untuk leher si tukang air yang kurus. Jadi, raja akan menggantung seseorang yang ukuran lehernya sesuai dengan ukuran simpul tali itu. Sepertinya ukuranmu pas”.

Sang guru menjatuhkan diri di kaki pengawal dan memohon ampun. Tapi sang pengawal tak bergeming dan tetap membawanya ketempat eksekusi.

Tepat ketika algojo akan memasang simpul tali di sekeliling lehernya, sang guru berkata, “Kabulkanlah satu permintaanku wahai Raja. Izinkan aku bicara dengan pengikutku untuk terakhir kalinya”.

Raja mengabulkan permintaan guru tua ini. Sang guru berbicara dengan pengikutnya selama beberapa saat, dan ketika kembali ke penggantungan, ia mulai bernyanyi dan bertepuk tangan. Semua orang mengira guru tua itu sudah gila karena sebentar lagi akan digantung.

“Aku akan mati dengan bahagia” teriak sang guru.

“Bagaimana mungkin?”, tanya raja.

“Pengikutku memberitahu bahwa ia baru saja diberi penglihatan. Ia melihat Tuhan yang bertakhta di surge itulah yang akan menjemputku dengan kereta kuda. Tuhan berkata: ‘Aku akan membawa orang yang baru mati ini ke surga’”.

Raja menjadi sangat marah mendengar perkataannya.

“Kenapa Tuhan datang menjemputmu?! Bukan Aku?!? Aku adalah raja. Kau bukan siapa-siapa. Aku putuskan bahwa aku yang akan digantung, bukan kau, sehingga semua orang bisa melihat bawah Tuhan yang akan datang menjemputku.

Dan begitulah raja memasukkan kepala kedalam simpul dan memerintahkan algojo untuk meggantung dirinya sendiri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: