Posted by: Yoga PS | 24 March 2013

Peminta

gelandangan modis di China buat ilustrasi doank.

Diantara beberapa “Ibu-ibu yang nongkrong sambil membawa wadah mengharapkan uang” di sekitar kantor, ada satu yang berkesan bagi saya. Oh ya, sebelumnya harus saya klarifikasi, saya tidak ingin menggunakan kata pengemis, karena mereka tidak pernah mengemis-ngemis kepada saya hehehe. Tapi karena kata ganti “Ibu-ibu yang nongkrong sambil membawa wadah mengharapkan uang” terlalu panjang, mari kita ganti jadi peminta saja.

Tempat main saya yang disebut kantor (karena kegiatan saya lebih sering main Xbox, nonton youtube, download film bajakan, sambil ngeliatin temen2 main bilyard) ada di daerah Rasuna Berkata, versi local Rasuna Said, Kuningan.

Ada beberapa spot peminta disekitar sini. Biasanya disekitar masjid. Karena ada beberapa masjid di sekitar kantor. Ada masjid Bulog, Menakertrans, belakang Grand Melia, Diknas, dan Kejaksaan. Pokoknya banyak jalan ke surga. Kebetulan, saya sering bosan sholat. Bosan sholat di musholla kantor maksudnya. Jadinya saya pasti blusukan saat dhuhur dan ashar. Sering berpindah-pindah masjid. Terkadang pingin juga nyoba sholat di masjid Katedral. Hahaha.

Tapi ada satu peminta yang menyita perhatian saya. Peminta dengan mangkok penuh berisi uang. Peminta yang mengajari bahwa Tuhan akan menambah rezeki hambanya yang bersyukur. Peminta yang menerapkan customer relationship management tingkat tinggi.

Di depan Indonesia Power

Peminta yang satu ini saya temui secara tidak sengaja. Stand by didepan kantor Indonesia power, perempatan Kuningan – Gatot Subroto. Ketika itu saya berangkat naik busway. Dan turun di halte Kuningan Barat. Dari situ saya harus ngesot ke arah Tempo Scan Tower. Nah, waktu itu saya lihat ibu ini.

Berjilbab, dengan tahi lalat dan membawa seorang anak. Didepannya ada mangkok berisi uang. Penuh. Dari recehan, ratusan, ribuan, dua ribuan, hingga lima ribuan. Berapa lapis? Ratusan! Lebih :p. Iseng-iseng saya merogoh kantong baju. Berisi adalah kosong. OK, pindah ke celana. Ada logam menyempil. Gopek. Rp.500.

Saya meletakkan uang itu. Tiba-tiba dia berteriak,

“TERIMA KASIH PAKKK.. TERIMA KASIIHHH” busyet gopek aja efeknya kaya gini. Kalo saya kasih sejuta mungkin teriakannya bisa sejuta decibel kali. Ngalahin pesawat super sonic donk. Hihihi.

Saya mencoba sok cool. Terus berjalan. Dengan anggun dan keren. Baru 5 meter Ibu itu teriak lagi.

“TERIMA KASIIHH YA PAKK.. SEMOGA KERJAANNYA LANCARRR”.

10 meter melangkah, masih ada efek echoing bergema.

“MAKASIH PAKKK.. MAKASIH..”

Gimana perasaan saya? Tentu jengkol donk.. eh jengkel. Masa baru umur 20-an uda dipanggil Pak. Mungkin karena saya pakai baju kantoran (biar tampang kuli bangunan). Tapi yang jelas, saya merasa pemberian saya berarti. Dan membuat saya ingin kembali.

Consumer Retention

Dan bener juga besok saya kembali! Meski hari itu saya tidak naik busway. Saya bela-belain jalan ke perempatan Kuningan untuk memberikan uang yang kini jauh lebih besar (jumlahnya rahasia perusahaan donk :P).

Dan saya masih mendapatkan efek yang sama.

“ALHAMDULILAH PAK.. MAKASIH BANYAKKK”

“MAKASIHH PAKKK.. MAKASIHH”

Kalau di jalan Gatot Subroto ada tebing, mungkin akan terus bergema sampai Surabaya.

“MAKASIHH PAKK.. PAK.. PAKK.. PAKKK” (bayangin efek gema)

Meskipun terkesan lebay, Ibu ini sangat menghargai pemberian pemberinya. Ia menciptakan consumer experience yang unik, otentik, dan jujur saja: menarik. Mungkin karena itu juga, mangkok Ibu ini selalu penuh. Ia menghargai rezeki yang diterimanya (meski Cuma Rp.500), dan membuat orang lain ingin memberi lebih.

Saya membandingkan dengan peminta di masjid belakang Grand Melia. Disana ada Ibu-ibu obesitas yang menyapa kita sok ramah, tapi akan tersenyum kecut jika kita tidak memberi. Lucunya lagi, jika kita memberi, ia akan segera memasukkan uang itu kedalam kantongnya sehingga terkesan mangkoknya selalu kosong!.

Mungkin seperti itu juga prinsip kerja Tuhan. Ia akan memberi lebih, kepada hamba-Nya yang bersyukur lebih. Yang menghargai rezeki meskipun kecil, tidak protes, tidak menyalahkan, apalagi menolak rezeki pemberian Tuhannya. Karena saya pernah mengalami, peminta yang menolak ketika diberi uang receh tak berarti.

Sejak bertemu dengan Ibu ini, saya sadar. Kita ini peminta. Tuhan itu pemberi. Betapa sering kita meminta lebih, atas apa yang telah Ia beri. Lupa bersyukur. Lupa betapa seringnya Ia memberi apa yang tidak kita minta. Lupa jika Ia akan menambah anugerah-Nya, bagi yang mampu mensyukuri karunia-Nya.

Karena kita ini peminta. Dan Tuhan itu pemberi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: