Posted by: Yoga PS | 31 March 2013

Kota Kecil (1)

Libur panjang kali ini saya isi dengan rekreasi yang sedikit berbeda. Berbekal ransel, baju ganti, kartu gesek plastic bekal akomodasi, tumpukan buku, tanpa alat transportasi pribadi, tanpa peta dari dora, dan saya siap berangkat. Sendirian (bersama Tuhan lebih tepatnya). Hanya satu yang kurang: saya tidak tahu mau kemana!

God bless stochastic traveler.

Dalam terminology statistik, saya jatuh cinta pada dua kata: outlier dan stochastic (kata ketiga: long tail). Yang pertama merujuk pada data tidak biasa diluar kewajaran sehingga terkadang harus disingkirkan untuk memperhalus modeling, sedangkan kata yang kedua, merujuk pada keacakan pergerakan sebuah variable. Tidak bisa ditebak. Sukar diprediksi. Spontan. Standar deviasi terlalu tinggi.

Dan sifat stochastic pada traveling berarti mempasrahkan nasib perjalanan pada kaki yang melangkah. Itulah yang saya lakukan. Keluar dari apartemen, menumpang shuttle bus ke halte trans Jakarta terdekat. Logika saya sederhana: pergi kesalah satu terminal bus.

Saya masih belum tahu mau kemana. Ketika setelah menembus kemacetan dan tiba di terminal Kampung Rambutan-pun saya masih melongo. Ga tau mau ngapain. Bukankah kehidupan tidak selamanya harus memiliki kejelasan tujuan? Apa yang terjadi jika ternyata tujuan dari perjalanan adalah perjalanan itu sendiri?

Tapi tidak memiliki tujuan tidak dikenal dalam sains manajemen. Tanpa tujuan yang jelas, seseorang hanya menghasilkan inefisiensi dan pemborosan sumber daya. Tugas seorang leader adalah menetapkan goal, dan mengarahkan segala sumber daya untuk mencapainya.

Saat tiba didepan loket peron terminal, saya tahu, keputusan harus segera ditetapkan.

“Ada bus ke Pandeglang?”

Serang

Dan tibalah saya disalah satu bus. Prima rasa apa prima jasa ya? Atau prima raga? Yang penting bukan prima gama deh. Atas saran pak supir yang budiman, saya disarankan turun di Serang untuk kemudian menyambung ke Pandeglang.

Kenapa Pandeglang? Saya juga tidak tahu. Karena saya tidak tahu inilah makanya saya mau cari tahu ada apaan di Pandeglang. Bego banget ya haha. Apalagi saat saya googling tentang Pandeglang, isinya tentang pantai semua. Carita dan Anyer. Tapi saya sedang tidak ingin mainstream. Mending mainsaham. Hahaha.

Pas long weekends dateng ke tempat rekreasi? Sama aja pas kiamat datang ke padang ma’shar!!! Pasti rameeee buanggetttt. Inilah asyiknya stochastic traveling. Pergi ke kota kecil. Tidak terkenal. Tidak memiliki tujuan. Menjauhi keramaian. Berharap bertemu ketenangan. Menuju kedamaian kehidupan.

Ok cukup bacotan sok bijaknya. Saat di terminal, Pelajaran kehidupan yang saya dapat: lebih baik menunggu di perempatan jalan daripada di dalam terminal. Kenapa? Karena bis-nya pasti ngetem dulu di perempatan! Apa sekalian saya nunggu di Serang? Pernyataan bodoh no 2 di tulisan ini.

Setelah dua jam an berdesak-desakan, ngantri, dan merasakan full sauna yang lumayan membakar lemak (padahal ada AC-nya), tibalah saya di Serang. Turun di terminal bayangan sekitar mall of Serang. Sekarang mau kemana kita tuan muda? Saya juga tidak tahu kakak tua…

Akhirnya saya memutuskan berjalan kaki sekitar 4 kilo ke pusat kota. Aturan city tour no 1 bagi saya: usahakan berdikari! Berjalan dengan kaki sendiri. Karena kalo pake kaki palsu ga bersyukur namanya. Jalan kaki akan memberikan the real experience. Merasakan udara kota. Mendengarkan dialek local bahasa. Mencium bau tanah yang berbeda. Tahun lalu saya menjelajahi Sumatera dan sedikit Asia Tenggara dengan berjalan kaki.

Kata bapak di bis, saya kudu naek angkot ke Pandeglang. Tapi hey, kenapa tidak mengeksplore dulu kota ini? Hey, bukankah saya pingin jadi yoga the explorer? Dan hey, sekarang sudah ada internet explorer!

Dengan muka acak, akhirnya saya memilih salah satu hotel secara acak.

Jaka Sembung perutnya Kembung. Tulisannya bersambung bung!!!

Peta Wisata kab. Serang, Banten

Peta Wisata kab. Serang, Banten


Responses

  1. sial Yooog..tulisan lo unik dan menarik banget! lanjutin doong

  2. Ahahaha.. asoy juga ni mas berpetualang.. Coba ke Cikoromoy di Pandeglang.. Klo Tanjung Lesung atau Ujung Kulon kejauhan.. Kab. yang bermotto berkah menanti Mas Yoga🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: