Posted by: Yoga PS | 27 May 2013

Tentang Kesedihan dan Mengapa Kita Terus Merasa Sedih

source: deviantart

Seorang Ibu yang sangat sedih karena kehilangan anaknya yang meninggal dunia, mendatangi Siddharta Gautama. Setelah berkeluh kesah dan menumpahkan kesedihannya, ia meminta kepada sang Buddha agar anaknya bisa hidup kembali kedunia. Sebuah permintaan yang sedikit mustahil. Anehnya, Buddha menyetujui permintaan sang Ibu. Dengan satu syarat:

Sang Ibu harus membawa benih dari keluarga yang tak pernah kehilangan anggota keluarga. Mendengar syarat itu dengan senang hati sang Ibu segera bergegas pergi. Mengetuk pintu demi pintu.

“Adakah benih yang bisa engkau bagikan?” tanya Ibu disebuah rumah.

“Ya kami memilikinya”

“Apakah keluargamu tidak pernah kehilangan salah satu anggotanya?”

“Maaf sekali, keluarga kami baru saja ada yang meninggal bulan lalu”

“Sayang sekali. Sang Buddha menyuruh saya untuk mencari benih di rumah yang tidak pernah kehilangan anggota keluarganya”

Demikian sang Ibu terus mencari. Mengetuk pintu demi pintu. Rumah demi rumah. Ia berpindah ke desa tetangga. Tapi tetap saja. Semua orang pernah kehilangan. Semua keluarga harus menerima tamu kematian. Akhirnya ia kembali mengharap Buddha.

“Bhante… ternyata tidak ada keluarga yang tidak pernah kehilangan anggotanya. Tidak ada yang tidak pernah merasakan kesedihan. Karena tidak ada manusia hidup, yang tak mati.” Sang Ibu lalu mendapat pencerahan dan menjadi bhikkuni.

Penyebab Kesedihan

Sang Ibu mampu “move on” dari kesedihan yang menimpanya. Tapi mengapa sebagian dari kita tidak?

Martin Seligman dari University of Pennsylvania punya jawabannya. Ternyata, makhluk hidup mampu mempelajari keputusasaan dan menjadikannya sarana bertahan hidup. Coba bayangkan seekor macan sirkus. Pada awalnya ia adalah hewan buas. Tapi berbagai hukuman ketika ia mulai bertindak ganas, dan setoran makanan ketika ia jinak, mampu mengontrol prilakunya.

Demikian juga dengan manusia. Menurut Seligman, keputusasaan yang dialami sebagian manusia adalah sebuah “explanatory style” (gaya penjelasan): kebiasaan dalam menjelaskan kejadian buruk dalam hidup mereka. Contohnya ketika kita kecopetan. Percakapan didalam diri kita mengenai penyebab kecopetan akan mempengaruhi output yang terjadi.

Manusia pesimis, mudah menyerah, dan kalah, menurut Seligman, menjelaskan kejadian buruk sebagai:

1.       Permanent: kejadian buruk akan terus terjadi. Saya kecopetan karena takdir saya memang sial. Nanti saya pasti akan kecopetan lagi.

2.       Pervasive: generalisasi sempit universal. Karena dompet saya hilang di terminal, berarti semua terminal tidak aman.

3.       Personal: semua hanya berpusat pada personal individu. Ini semua karena saya. Semua orang pasti menyalahkan diriku? Mengapa nasibku begitu menyedihkan?

Yang harus kita lakukan, menurut Seligman, adalah menjelaskan pada diri kita sendiri bahwa apapun yang terjadi bahwa hal ini adalah sementara (tidak permanen), spesifik pada kasus tertentu, dan bukan hanya masalah kita sebagai seorang pribadi. Penjelasan itu harus temporary, specific, dan external.

Kembali kecerita Buddha diatas. Sang Ibu akhirnya menemukan pencerahan ketika ia menemukan kesadaran. Sadar jika dunia itu sementara, kehilangan adalah kewajaran, dan kehidupan-kematian adalah sesuatu yang diluar kekuasaan kita.

Sang Ibu sadar jika semua permasalahan kehidupan itu: temporer, spesifik, dan eksternal.

—–

Mau nulis tentang Buddha tapi karena lagi baca tentang Seligman. Jadinya tulisan campur aduk kaya gini. hahaha


Responses

  1. Hal-hal yang terjadi adalah sementara. 🙂
    Mau gw share ke temen gw ya oms🙂

  2. waaaaah…. terima kasih Om. Pas banget dengan situasi saya saat ini. Baiklah, mantra kali ini: masalah itu temporer, spesifik, internal

  3. silaken kakak. bilangin untuk apa bersedih? mawar masih merah. hidup masih indah🙂

  4. wow lagi down kenapose ses???

  5. yaaah begitulah jakarta, orang main tipu-tipu bisa banyak cara. *masih gak jelas juga ya..*

  6. temporer, spesifik, eksternal..
    makasih kk tulisan bagusnya.. cocok utk diriku saat ini. hehehee.
    mencerahkan.

  7. memotivasi bgt

  8. […] Myatt, dia masih ingat yang dia pernah menjadi seperti manusia normal lain – berasa sedih apabila berlaku perkara yang tidak diingini namun kini dia tidak lagi dapat merasa emosi sedih […]

  9. Kami sekeluarga ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada MBAH RIJI atas bantuannya saya menang togel yang pertama kalinya,pekerjaan saya sehari-harinya cuma seorang supir angkot yang pendapatannya tidak seberapa,buat biaya anak sekolah aja tidak cukup apalagi untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehari-harinya….suatu hari saya tidak sengaja mendengar pembicaraan teman saya mengenai prediksa MBAH RIJI yang katanya bisa mengeluarkan angka sgp/hk yang di jamin tembus,akhirnya saya bertanya dan teman saya memberikan nomor MBAH RIJI dan saya pun menghubunginya..?? Berkat bantuan MBAH yang telah memberikan anka “GHOIB” nya 3D yaitu 275 dan alhamdulillah itu ternyata terbukti….sekaran anak saya bisa lanjut sekolah lagi itu semua atas bantuan MBAH RIJI ,bagi anda yang penggemar togel ingin meruban nasib melalui angka2 goip yang di jamin 100% kemenangan hbg MBAH RIJI di nmr;_082344440428,ini bukti nyata bukan rekayasa,mana ada kemenangan tanpa keberanian dan kejujuran,saanya kita perlu bukti bukan sekedar janji2,hanya MBAH RIJI yang bisa menjamin 100% kesuksesan,anda perlu bukti hbg sekaran MBAH RIJI nya,terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: