Posted by: Yoga PS | 30 June 2013

Marathon

Everyone can run

Everyone can run🙂

Jika hidup adalah perlombaan, maka lomba itu adalah marathon.

Sebuah kompetisi jarak jauh. Kita harus berlari 42,192 kilometer. Jarak penghormatan untuk Pheidippides dari Yunani, yang berlari hingga mati untuk mengabarkan kemenangan bangsanya terhadap Persia di perang Marathon. Konon, ia berlari dengan begitu semangat sambil berteriak: “Nenikekamen!”, “Kita menang!”.

Saya menikmati lari demi marathon. Ia bagaikan sebuah medali pencapaian hidup. Kategori ini yang membuat saya termotivasi untuk terus berlatih dan menempa diri. Berlari setiap hari. Terus berkata dalam hati: “Saya akan menyelesaikan marathon! Saya akan menang!”. Menang. Menang. Menang. Mengalahkan diri sendiri.

Coba bayangkan. Pada awalnya saya hanyalah seonggok lemak dengan berat 105 kg yang tak kuat berlari. Jikapun bisa menempuh jarak 500 meter, harus dibayar dengan nafas terengah-engah, dada berdetak cepat, dan sebotol soft drink ditambah segepok nasi padang sebagai kompensasi energi.

Saya mencintai lari secara tidak sengaja. Waktu itu pertengahan 2011 menjelang wisuda, dan saya punya alasan ideologis sangat mulia yang bisa menggugah dunia: saya harus lulus tes kesehatan jika ingin bekerja!. Hahaha. Lalu mulailah saya belajar berlari. Olahraga murah tanpa alas kaki. Mengitari lapangan di pagi hari. 100 meter untuk pertama kali.

Tapi ternyata Tuhan memang tidak bohong. Jika kita berbuat kebaikan, kebaikan itu untuk diri kita sendiri. Dan jika kita berbuat keburukan, keburukan itu untuk diri kita sendiri. Setelah beberapa bulan berlatih, saya merasa lari membawa perubahan dalam hidup saya.

Tidak ada lagi badan mengantuk di pagi hari. Tak ada lagi nafas habis saat menaiki tangga. Sudah bukan waktunya, merasa lemas di malam hari. Badan saya terasa segar. Alhamdulilah, fisik saya semakin bugar. Berat badan turun. Saya bukan lagi anggota “Family 100” (orang dengan berat 100 kg ++). Intinya, saya merasa sehat!.

Almarhum Eyang Kakung saya juga doyan sekali lari. Dan mungkin kebiasaan ini yang menjadi “doping” beliau untuk tetap sehat. Berumur 70an dan masih tetap segar bugar. Meski selalu “ngemil” Dji Sam Soe setiap hari. Saat berkunjung ke rumah anak-anaknya, ia pasti membawa sepatu lari. Dan sudah pasti ngilang di saat pagi. Entah lari ngabur kemana lagi.

Sebelum Mati, Sampai Mati

Setelah pindah ke ibukota, saya semakin suka berlari. Terutama lari ke warung terdekat. Hihihi. Tak lupa iseng-iseng mengikuti event seperti 10k atau half marathon (21 km). Entah mengapa, mengikuti event membuat lari terasa menyenangkan dan bertambah semangat! Tak hanya di Ibukota, saya iseng2 ikutan event lari di Malang dan Bali (Bromo dan Singapura insya Allah menyusul tahun ini). Pokoknya masih ada satu nafsu yang harus dipenuhi sebelum mati: ikutan full marathon!.

Saya tahu hal itu sangat berat. Karena berat badan saya saja sudah berat. Hehehe. Tapi saya percaya, insya Allah bisa!. Karena dalam marathon, kecepatan bukan penentu utama perlombaan. Tapi konsistensi dan semangat pantang menyerah. Ada yang awalnya cepat, tapi harus tercecer di akhir lomba. Ada yang memulai dengan lambat, tapi bisa finish di rombongan terdepan.

Demikian pula dengan hidup. ada yang cemerlang dimasa sekolah, tapi harus menghabiskan masa tua dengan menderita. Ada yang memprihatinkan saat muda, tapi justru mampu menjadi manusia paripurna saat dewasa. Ada yang terlahir kaya tapi mati miskin. Ada juga yang terlahir miskin tapi mati lebih miskin lagi. Hahaha becanda.

Saat berlari saya belajar banyak tentang hidup. Pentingnya kemampuan melihat “finish line” untuk terus bersemangat, tidak tergoda untuk adu sprint dengan orang lain jika perjalanan masih jauh, tersenyum kepada peserta lain dan masyarakat sekitar, melihat keindahan pemandangan, terkadang harus berhenti untuk minum, dan yang paling utama: menikmati perlombaan.

Banyak dari kita yang tidak bisa melihat “finish line” kehidupan, terus membanding-bandingkan pencapaian “lari” dengan orang lain, menganggap sesama adalah pesaing, bersedih jika harus “berhenti”, dan lupa jika hidup adalah anugerah yang penuh kegembiraan.

Dalam perlombaan lari, tidak peduli Anda harus jatuh atau berhenti berapa kali. Yang terpenting: bangkit lagi, lari lagi!. Melanjutkan perlombaan hingga finish. Meski terkadang sakit. Meski sangat lelah. Meski nyeri terus terasa di persendian. Selama perlombaan belum berakhir! Jangan menyerah! Terus berlari!

Karena pada dasarnya, lari adalah perlombaan dengan diri sendiri. ini adalah tentang mengoptimalkan kemampuan tubuh untuk melintasi garis finish dengan riang gembira dan berteriak: “Nenikekamen! Nenikekamen! Nenikekamen!”

 *)Ditulis setelah berhasil finish Bali Marathon 21 km dalam waktu 3 jam 15 menit😀


Responses

  1. 🙂 hebat juga, setelah di Jakarta justru makin terdengar positif tulisannya. Terima kasih Kakak, mencerahkan sekali.

  2. ma’acih kakak😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: