Posted by: Yoga PS | 18 August 2013

Erysichthon

Suatu hari Erysichthon sang tukang kayu berjalan ke sebuah pekuburan. Dilihatnya kayu oak yang bagus. Batangnya besar, kuat, dan kokoh. Kayu yang mahal, pikir Erysichthon. Muncul hasrat untuk memiliki. Ia tidak peduli meski disekitar kayu terdapat symbol doa kepada Demeter, dewa panen dan pertanian.

Akhirnya Erysichthon menebang kayu itu. Ia mengacuhkan peringatan orang. Di kepalanya hanya ada keuntungan berlipat dari kayu oak ini. Demeter yang tahu kayu pemujaannya ditebang menjadi murka. Dia lalu mengutuk Erysichthon. Dikirimkannya Limos, dewa kelaparan. Kini Erysichthon akan mengalami kutukan rasa lapar. Semakin ia makan, semakin ia kelaparan.

Setelah menebang pohon oak dewa itu, Erysichthon pun pulang. Energinya terkuras. Ia lelah, dan terutama: lapar. Ia pun makan malam. Anehnya, setelah makan, justru rasa lapar yang dirasa. Ia pun menghabiskan semua makanan yang ada, termasuk semua persediaan. Tapi itu semua belum cukup! Ia masih merasa lapar!.

Erysichthon terus makan. Tidak berhenti. Hari demi hari hartanya mulai dijual untuk membeli makananan. Tanah, hasil kayu, perabot perumahan, apapun itu yang penting bisa ditukar dengan roti atau daging. Tapi tetap saja, lapar itu terus mendera. Sampai akhirnya, Erysichthon menjual anak gadis kesayangannya, Mestra, ke sekawanan pelaut.

Meskipun diceritakan Mestra yang diperbudak bisa diselamatkan oleh Poseidon. Sang dewa laut memberikan Mestra kemampuan berubah wujud. Dari gadis jelita ia bisa berubah menjadi pelaut tua, atau benda-benda berharga lainnya. Mestra kembali ke ayahnya, dan Erysichthon yang tahu anaknya bisa berubah wujud memanfaatkan hal ini dengan menjual kembali anaknya.

Pada akhirnya, disaat Erysichthon tak mampu lagi mendapatkan makanan, ia harus memakan tubuhnya sendiri hingga meninggal dunia.

Puasa dan Merdeka

Cerita Erysichthon adalah cerita “penjajahan” nafsu manusia. Keinginan yang berlebihan karena diliputi nafsu kekuasaan. Ingin memiliki, lebih banyak, lebih besar, tidak berhenti, lagi, dan lagi. Semakin dituruti, semakin menjadi.

Peperangan melawan penjajahan nafsu adalah kisah klasik perjuangan kemanusiaan. Ini adalah sebesar-besarnya peperangan. Para pertapa berusaha memerdekakan diri dengan meninggalkan keduniawian, menyepi dalam keterasingan, mencari secercah pencerahan. Sedangkan sebagian dari kita berusaha melawan penindasan hawa nafsu dengan berpuasa.

Puasa. Tidak makan. Tidak minum. Tidak berhubungan sex. Melawan limos. Puasa. Berpikiran yang baik. Berkata yang baik. Berbuat yang baik. Sebuah pendekatan macro cosmos. Setelah bulan puasa usai, ujian yang sesungguhnya baru dimulai. Masihkan kita mampu mengendalikan diri, mengekang nafsu pribadi, dan berbuat kebaikan setulus hati?

Karena itu, bagi saya Idul fitri bukanlah sebuah perayaan. Bukan momen kemerdekaan. Karena perjuangan kita masih panjang. Manusia baru bisa dibilang merdeka saat nyawanya sudah diangkat, amalnya sudah ditimbang, dosanya sudah diampuni, bukunya sudah ditutup, ceritanya sudah diakhiri.

Kita baru merdeka saat meninggalkan dunia fana yang penuh tipu muslihat dan kesementaraan ini dengan senyuman dan kitab ditangan kanan. Sebelumnya? Maka hidup adalah perjuangan menuju kebaikan. Tak berhenti. Sampai akhir nanti.

Merdeka saat mati.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: