Posted by: Yoga PS | 5 January 2014

Cerita Sederhana Pengantar Senja Tentang Ayah dan Anaknya

Ketika di Belitung, saya menyaksikan kecelakaan tunggal di depan mata. Saat itu saya baru saja pulang berpetualang dari pantai Penyabong di daerah Membalong, dan hendak pulang kearah kota Tanjung Pandan.

Seorang ibu yang berboncengan dengan anaknya mengalami kecelakaan. Ia kaget karena anaknya bergerak tiba-tiba, dan secara reflex mengerem mendadak. Ban selip, dia pun jatuh. Anaknya yang dibonceng dan kira-kira masih berusia 7 tahun, jatuh menimpa batu. Tragisnya: karena tidak memakai helm, kepalanya bocor.

Dikarenakan jalanan sepi (ditengah pepohonan semi hutan), saya mengajukan diri untuk mengantar Ibu yang malang ini ke Puskesmas terdekat yang ada di daerah Simpang Rusa. Saya membonceng mereka berdua selama 3 km untuk mendapatkan perawatan. Kepala sang adik masih terus mengeluarkan darah. Sang Ibu tak henti mengucapkan doa dan istighfar dan meminta saya segera memacu gas.

Beruntungnya kita. Puskesmas masih buka. Padahal dokter jaganya sudah bersiap pulang. Ketika itu 31 December jam 3 sore. Orang-orang sudah terkena euphoria tahun baru. Pak dokter yang sudah berada di pagar keluar pun dipanggil kembali. Ada pasien gawat darurat menanti.

Setelah mendapat perawatan (membersihkan luka, menjahit kepala), tak lama kemudian sang Bapak datang. Pak Zainal namanya. Orang Jakarta, perantauan yang sudah 3 tahun menjadi juru las di pasar. Tampangnya rada sangar. Memakai jaket hitam, dengan kulit terbakar matahari. Mirip bang “Jo” yang menjadi host acara “Tangkap” di TV beberapa tahun lalu. Waspadalah! Waspadalah!

Apa yang pertama kali dilakukan Bapak sangar ini ketika melihat anaknya terbaring dengan jahitan dan lumuran darah di kepala? Bukan panik, bukan marah, bukan kaget. Dia justru tersenyum, tertawa, dan berkata:

“Ehh.. jagoan papa abis jatoh ya? Ga’papa kan sayang? Pasti kuat kan” sambil menunjukkan ekspresi tenang dan gembira.

Sang anak, Indra namanya, hanya diam dan tersenyum. Ia hanya bocah SD yang memaksa ikut Ibu ke kota untuk membeli terompet tahun baru karena ingin merayakan pergantian tahun bersama sang abang di perkemahan Meranti.

Mungkin dia kaget. Ayahnya tidak marah, dan itu berarti ia tidak salah! Berbeda dengan reaksi sang Ibu yang menyalahkan dirinya karena tidak mau menggunakan helm ketika berangkat.

“Ini loh Mas, udah aku suruh pake helm ga mau. Mau pake jaket aja setelah dipaksa-paksa. Makanya lain kali nurut!” sang Ibu seolah-olah tidak mau disalahkan atas kecelakaan yang menimpa anaknya.

Sang ayah hanya tersenyum. Tidak mengeluh. Tidak ngedumel. Selama sang anak baik-baik saja, berarti semuanya baik-baik saja.

Saat mengantarkan si ayah mengambil motor yang tertinggal, ia mulai bercerita. Tentang asal-usulnya. Bos-nya yang kabur. Bengkel yang ia ambil alih. Tunggakan hutang. Pengalaman membuka bengkel las. Kerasnya hidup. Dan cerita tentang keluarga kecilnya. Dunia kecil yang ia cintai, dan ingin ia lindungi.

Ayah tetaplah Ayah. Meski terlihat keras karena terbiasa berurusan dengan besi dan las, dia tetaplah seorang ayah yang harus mengajari anak laki-laki bahwa kekuatan sejati, ada pada kelembutan di dalam hati.

Pantai Penyabong. Sorry rada mendung. Aslinya hamparan laut tenang warna ijo yang bikin saya ga kuat untuk ga nyebur hahaha

 NB: Oh ya, saya menulis ini untuk Bapak saya yang berulang tahun hari ini! Semoga panjang umur ya Pak!😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: