Posted by: Yoga PS | 22 December 2014

Calo Tiket: Musibah Atau Berkah?

Pada 13 Desember lalu, harusnya saya terbang ke Yogyakarta untuk urusan keluarga yang sangat penting. Naik salah satu budget airlines di terminal 3 Soekarno Hatta. Jadwal flight jam 5.20, tapi berkat kebodohan saya sendiri, saya terlambat dan ditolak untuk check in (saya lupa untuk web checkin T_T).

Karena sudah janji dan tidak bisa diwakilkan, mau tidak mau saya harus terbang pagi ini juga. Saya cek next flight, ada yang jam 6. Tapi sudah penuh. Ada penerbangan selanjutnya yang available jam 10 pagi. Saya sudah telat.

Saya coba pindah jurusan. Cek jurusan Solo via internet. Karena acara keluarga sebenarnya di Solo. Saya terbang ke Jogja karena rata-rata tiket kesana lebih murah dari yang langsung ke Solo. Adanya malah sore. Lha terus gimana donk?

Satu pintu tertutup, dua jendela terbuka. Kepercayaan yang menggelora di dalam dada. Pasti ada cara untuk mendapatkan tiket penerbangan. Banyak jalan menuju Solo! Akhirnya saya pindah ke terminal 1A, coba tanya ke sales counter maskapai yang plesetannya Late is Our Nature. Penuh juga.

Mampus… saat saya sudah siap dimarahin keluarga sekampung, saya iseng-iseng mengelilingi terminal 1. Niatnya sih menyambangin semua kantor maskapi dari 1A sampai terminal 2. Ga berapa lama berjalan, saya didekati bapak-bapak:

“Mas, Solo mas? Ini ada tinggal satu”

Wah, bau-bau calo nih.

“Berapa Pak?” tanya saya iseng.

“Berangkat pagi ini juga, jam 8. Satu koma empat saja”

Gile ni bapak tua bangka. Masa ke Solo doank 1,4 juta. Apalagi kalo mau ke Amerika?

“Normalnya kan 500 Pak, ya udah 700 aja mau?” saya coba tawar.

“Ga bisa mas. Kita bayar ke maskapai-nya aja 400rb. Belum uang rokok ama uang nganter check in kedalam. Ini tinggal terakhir nih” sanggah bapak yang mengaku bernama Yayat.

Untuk negosiasi seperti ini, jangan sampai penjual tahu jika Anda benar-benar butuh. Munculkan alternative, dan jika dia tidak tertarik, gunakan exit strategy.

“Pak, saya masih bisa cari maskapai lain. Kalau Bapak ga mau, ya Bapak sendiri yang rugi karena tiketnya hangus” kata saya sambil berpura-pura melangkahkan kaki. Dalam hati saya berdoa biar dia manggil saya. Kalau saya yang kembali ke dia, posisi tawar dia menguat dan dia bisa mempertahankan harga.

Baru berjalan beberapa langkah, ada suara:

“Ya udah Mas sini. Tapi tolong tambahin uang rokok ama ongkos nganter ke dalam ya”

Ok kita deal di 850rb. Saya setuju karena ya saya juga bener-bener butuh ama tiketnya dan harga segitu adalah harga normal tertinggi untuk flight ke Solo. Sambil mengambil uang di ATM, muncul pertanyaan di kepala: amankah beli tiket di calo? Kalau saya ditolak masuk gimana? Kalau saya ditipu? Ah.. anggap aja ini risiko dan bisa jadi pelajaran. Siapa suruh telat datang ke bandara?

Sindikat

Setelah setuju saya dibawa ke gerombolan teman-temannya. Mereka duduk-duduk di ruang tunggu. Dekat tempat dropping taxi.

“Ini ada yang mau Solo nih, cari yang mudaan” seru pak Yayat.

Hah? Muda apaan?

Salah seorang temannya lalu merogoh kantong dan mengeluarkan setumpuk KTP. Sambil melihat wajah saya yang ganteng dan mempesona (huekkk), dia menyerahkan salah satu KTP.

Ternyata, dia memiliki setumpuk KTP aspal dengan nama yang sama, tapi dengan wajah berbeda. Nama yang dipilih adalah unisex: Mardian. Bisa untuk laki, bisa untuk perempuan. Tinggal foto-nya aja. Ada yang tua, ada yang muda.

Saya menerima KTP atas nama Mardian asal Jakarta. Kelahiran tahun 73. Buset tua amat. Wajahnya garang. Beda jauh ama komuk (muka) saya yang imut-imut.

sejak kapan muka saya jadi sangar?

sejak kapan muka saya jadi sangar?

Setelah ada KTP, pak Yayat meminta uang 400rb untuk menebus tiket. Saya tidak mau. Untuk berurusan dengan para rent seeker seperti ini, kita harus punya golden rule: Jangan berikan uang sebelum jasa diterima.

Saya ga mau bayar sebelum dapat tiket dan sudah berhasil masuk ke boarding room. Akhirnya saya maksa untuk ikut ke sales counter dan membayar 400rb-nya disana, sedangkan sisanya akan dibayar setelah check in di dalam ruang tunggu.

Akhirnya kami melangkah ke sales counter maskapai berlogo singa yang bisa terbang itu. Disana sudah menunggu anggota gang mereka, Adi namanya. Rupanya dia juga sedang mengurus tiket untuk 2 penumpang dengan tujuan yang sama dengan saya: Solo.

Saya ga tau mekanismenya gimana, pokoknya mereka meminta saya membayar 400rb kepada kasir sales counter. Untuk kemudian bisa langsung check in ke dalam.

“Kita return dulu tiketnya, Mas. 400rb itu untuk biaya return”. Return maksudnya gimana ya?

Hipotesa saya: mereka bekerja sama dengan travel agent melakukan booking, meng-hold booking tersebut, dan melakukan payment jika sudah ada korban orang tidak berdosa yang kepepet seperti saya.

Yang jelas, saya kemudian diantar ke dalam. Di check-in kan dan membayar sisa 450rb di koridor sebelum boarding room. Setelah itu semua berjalan sesuai rencana. Saya boarding dengan mulus, duduk manis di dalam pesawat yang penuh, dengan menggunakan identitas Mardian.

tiket

Lemahnya Pengawasan

Begitu mudahnya saya masuk dan menggunakan KTP abal-abal menunjukkan lemahnya pengawasan bandara kita. Dan ini juga berarti rendahnya standar kemanan. Seorang calo bisa dengan bebas keluar masuk ruang check-in. Untung saya tidak berniat jahat, bagaimana jika saya adalah seorang buronan polisi yang ingin terbang untuk menghilangkan jejak?

Calo juga menghadirkan ineffisiensi pasar. Penumpang diharuskan membayar harga yang jauh diatas harga pasar untuk keuntungan segelintir orang. Terjadi asimetric information antara penumpang dan airlines sebagai penyedia jasa. Sang calo seenak jidat bisa menyebutkan harga jual yang harus dibayar.

Kehadiran calo sebenarnya juga merugikan airlines. Jika terjadi musibah, maka pihak asuransi berhak menolak mengganti biaya kerugian pesawat karena ketidaksesuaian manifest. Tapi toh calo hadir dikarenakan sistem maskapai itu sendiri. Mereka melihat peluang dalam lemahnya fungsi pengawasan data penumpang.

Selain itu mayoritas LCC (low cost carrier) tidak memperkenankan adanya uang kembali jika penumpang berhalangan terbang. Hal ini menyebabkan banyak penumpang yang gagal terbang, malas me-return tiketnya yang berakibat tertutupnya peluang orang-orang go show (mencari tiket untuk terbang saat itu juga) untuk mendapat kursi pesawat secara resmi. Mereka akhirnya memilih opsi menjual di secondary market lewat calo (pak Yayat mengatakan bisa membantu menjual tiket yang sudah di book).

Yo wes lah… ambil positifnya saja. Jika pengawasan penerbangan kita terlalu ketat, saya pasti gagal terbang dan batal menikah.

Iya, saya harus terbang untuk mengucapkan janji suci di depan petugas KUA.


Responses

  1. Oalaahh gitu toh hahahaha… nice experience. Aku baru ngerti nih calo itu kayak gitu ternyata :)) semoga sukses ya bro


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: