Posted by: Yoga PS | 25 January 2015

Ka’bah Dekat Rumah (7): Hotel Bintang Tujuh

Seperti cerita di tulisan sebelumnya, alhamdulilah saya mendapat tumpangan menuju madinah. Kebetulan masih ada bangku bus yang kosong. Ibrahim mengenalkan saya dengan rombongan dari Indonesia. Jauh-jauh menghindari macet ibukota, eh tetap saja ketemu warga Jakarta. Haha.

Mereka kaget karena tahu saya ga pake rombongan. Istilah kerennya: solo backpacker. Istilah jujurnya: ga punya duit ikutan umroh lewat tour and travel. Mereka pada penasaran nanti nginep dimana? Makan apa? Ke Mekah gimana? Jangankan mereka, saya yang mau ngejalanin aja ga tau mau tidur dimana, makan apa, atau cara umroh ke Mekah gimana. Kita lihat saja nanti.

Yang penting itu niatnya.

Kelaparan? Tuhan akan memberikan makanan

Kebingungan? Tuhan akan menunjukkan jalan.

Kejauhan? Tuhan akan memberikan tumpangan.

Keyakinan itu yang coba saya afirmasi kedalam diri. Pasrah dan berserah. Sepasrah-pasrahnya. Seikhlas-ikhlasnya. Toh selalu ada jalan bagi mereka yang mau berdoa dan berusaha.

Mananya yang Merah?

Akhirnya saya jadi peserta travel selundupan. Dan menikmati paket tour yang sama. Berarti saya juga ikutan rombongan yang akan berjalan-jalan ke Masjid Apung dan Laut Merah. Asyikkk!

Saya tidak sabar ingin menyaksikan masjid Apung di tepi laut merah. Seperti apa rupanya? Saya Cuma tahu lesehan warung apung. Ini masjid yang mengapung? Di laut merah? Apa lautnya benar-benar berwarna merah?

Setelah menempuh perjalanan yang saya isi dengan tidur (untuk menghemat tenaga karena tidak tahu nanti malam akan tidur dimana), tibalah kami di masjid Apung di tepi laut merah. Ya elah, disebut masjid Apung karena kalo air pasang, masjid ini seolah-olah “mengapung” di lautan. Dan lautnya? Koq ga merah ya?

Saya baru tahu jika sebutan laut merah karena adanya organisme sejenis Trichodesmium berwarna merah yang hidup dilautan ini. Saya sempat berpikir laut ini disebut laut merah karena merah darah pasukan firaun yang ingin menangkap nabi Musa. Untungnya pikiran sesat saya berhasil dicerahkan oleh wikipedia.

Karena sudah sholat dan takut ketinggalan bus (risiko penumpang gelap), saya menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di tepi pantai disekitar parkiran. Ternyata banyak juga orang Indonesia yang jualan makanan dan minuman. Karena banyaknya orang arab ditengah orang Indonesia, atau sebaliknya banyak orang Indonesia ditengah orang arab, saya kemudian berpikir:

Anggep aja saya lagi liburan di puncak, tapi ga pake acara kawin kontrak.

Hampir Disiram

Setelah kurang lebih satu jam berkunjung ke Masjid Apung, akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Jarak dari Jeddah ke Madinah sekitar 400 km. Hampir sama dengan jarak Jakarta-Pekalongan. Bedanya, jika di Jawa harus melewati kemacetan dan butuh waktu 10-12 jam, disini jalanan lebar dan mulus. Bus melaju dengan kencang dan hanya butuh 4-6 jam tergantung mau istirahat berapa lama.

Tak terasa kami menempuh sekitar 6 jam perjalanan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan sampailah kami di Madinah al mukarromah. Bus langsung menuju ke masjid Nabawi, karena rombongan travel yang saya tumpangi menginap di hotel sekitar sana. Terus lo nginep dimana cuk?

Setelah berhenti dan mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya ke rombongan yang berbaik hati membantu, saya langsung mengambil ransel satu-satunya. Turun. Memasuki pelataran Masjid, dan memikirkan dua hal. Pertama: Alhamdulilah ya Allah bisa berkunjung ke masjid Nabawi, dan kedua: bingung mau tidur dimana.

Memasuki pelataran masjid, pintu masih ditutup. Rencana saya untuk nyamar jadi jamaah sholat untuk tidur di dalam gagal. Karena bingung, lagi-lagi saya pake jurus minta petunjuk: sholat. Toh sholat di masjid Nabawi insya Allah lebih punya keutamaan.

“Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih baik dari seribu (shalat) daripada yang lain kecuali Masjidil Haram, dan shalat di Masjid haram itu lebih baik dari seratus ribu (shalat) daripada yang lain.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Kali aja abis sholat terus saya berdoa langsung dikabulin. Contohnya:

“Ya Tuhan, mau tidur di hotel donkkk..”

Tiba-tiba kunci hotel jatuh dari langit, atau ada orang yang ngerasa saya mirip keluarga kerajaan dan menawari nginep di Abraj al bait yang terkenal dengan menara jam-nya itu. Aduh, kebanyakan nonton pilem hidayah ya bro???

Karena selanjutnya tak terjadi apa-apa..

Malah saya hampir disiram karena tidur di depan pintu masjid dan kebetulan lantainya mau di pel. Langsung saya berdiri dan melarikan diri. Tangi leee…

Karena bingung saya coba perhatikan keadaan sekeliling. Ternyata saya tidak sendiri. Ada beberapa jemaah lain yang Cuma bermodal tas berisi pakaian. Mereka rata2 tidur di sekitar toilet/WC. Akhirnya saya dekati mereka. Salam. Senyum sana-sini dan basa-basi. Meletakkan barang pribadi. Merebahkan diri. Ah lelahnya tubuh ini.

Sambil menunggu pintu masjid dibuka bagi para jemaah yang ingin sholat malam dan berdoa di sekitar raudhah, saya mencoba beristirahat. Berbaring disamping jamaah asal Pakistan. Tak lupa memakai kaus kaki dan pakaian dobel karena suhu yang dingin. Sambil memandang langit.

Terima kasih Tuhan, karena menerima hamba dirumah-Mu.

Dibandingkan hotel-hotel yang saya tempati sebelumnya, maka saya berada di “hotel bintang tujuh”.

Karena saya tertidur dengan hati yang damai. Sejuk sekali.

Pemandangan didepan "hotel" saya :)

Pemandangan didepan “hotel” saya🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: