Posted by: Yoga PS | 22 February 2015

Rahib yang Menjual Ferrari

edisi bhs indo

Saya membaca The Monk Who Sold His Ferrari secara tidak sengaja. Ketika itu saya sedang sholat di praying room bandara Changi Singapura. Salah satu bandara terbaik dunia ini memang tidak memiliki musholla yang dedicated, tapi mereka menyediakan ruang doa bersama untuk semua penganut agama.

Saya berjamaah dengan bapak-bapak orang Melayu. Dia tanya saya dari mana. Pingin jawab “dari tadi” takutnya ga nyambung. Setelah ngobrol basa yang gak basi, saya akhirnya tahu jika dia bekerja di salah satu toko buku di dalam bandara.

Mainlah kesana, ajaknya. Karena flight saya masih satu jam lagi, saya mengiyakan tawarannya. Lagipula, buku adalah teman terbaik saat menunggu.

Novel Motivasi

Setelah sampai di toko, dia mempersilahkan saya melihat-lihat. Bagi saya, ini adalah kesempatan membaca gratis. Dari berbagai koleksi buku bahasa asing yang ada, saya tertarik pada sebuah buku dengan judul yang unik: The Monk Who Sold His Ferrari. Setelah saya balik ke Indonesia, ternyata edisi terjemahan-nya sudah dicetak sejak September 2014 lalu.

Buku cerita inspirasi ini berkisah tentang seorang pengacara kondang Julian Mantle. Hidupnya sangat sukses, baik dalam karier, ataupun berkeluarga. Punya rumah mewah, dan tentu saja: Ferrari Merah.

Tapi tentu semua yang ada di dunia, hanya sementara. Suatu hari, ada kabar duka. Putrinya kesayangannya meninggal karena kecelakaan. Julian yang sebelumnya sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu bersama keluarga, menjadi merasa bersalah. Dia merasa depresi. Kemudian mencoba menghibur diri lewat minuman keras dan tak butuh waktu lama untuk menghancurkan tubuhnya sendiri: dia terkena serangan jantung ketika sidang.

Disaat keadaan semakin buruk, dia memutuskan untuk pensiun dari dunia hukum, menjual semua asset (termasuk Ferrari kesayangannya) dan pergi ke India untuk hidup yang lebih baik. Ketika dia kembali, dia justru terlihat 10 tahun lebih muda, badan ramping, muka bercahaya, dan menjadi bijaksana. Apa rahasianya?

Cerita Rahasia dari Kaum Bijak Sivana

Dia membagi rahasia hidup bahagianya kepada John, kawan firma hukumnya. Sebuah rahasia yang konon diperoleh dari kaum pertapa Himalaya.

Rahasia yang ada dalam sebuah cerita sederhana:

Kau sedang duduk di tengah taman yang sangat

indah, lebat, dan hijau. Taman itu dipenuhi bunga paling menawan yang pernah kau lihat. Lingkungannya damai dan hening. Nikmatilah cahaya taman ini dan rasakan seolah-olah kau memiliki waktu selamanya untuk menikmati oasis alami ini. Kau memandang sekeliling dan melihat bahwa di tengah taman ajaib itu berdiri sebuah mercusuar berwarna merah yang menjulang setinggi enam tingkat.

Dari dalamnya, muncullah seorang pesumo Jepang setinggi 280 cm dan berat 450kg yang berjalan-jalan dnegan santai menuju tengah taman. Sang pesumo hanya memakai cawat merah muda untuk menutup bagian pribadinya.

Saat pesumo itu mulai berjalan-jalan di taman, dia melihat sebuah pengukur waktu berwarna emas berkilau yang ditinggalkan seseorang bertahun-tahun sebelumnya. Dia menginjak pengukur waktu itu hingga jatuh terpeleset ke tanah dengan bunyi “BUKKKKK!!!!” yang keras.

Pesumo itu pingsan dan berbaring disana, bergeming dan tak bersuara. Ketika kau mengira dia sedang mengembuskan nafas terakhirnya, pesumo itu bangkit, mungkin karena harum beberapa kuntum mawar kuning segar yang tumbuh didekatnya.

Merasa mendapat suntikan tenaga, si pesumo dengan cepat melompat bangkit dan secara naluriah menatap ke arah kiri. Dia terkejut dengan apa yang dia lihat. Di balik semak-semak di ujung taman, dia melihat jalan setapak panjang berliku-liku yang ditutupi jutaan berlian berkila.

Ada sesuatu yang seperti menyurush si pesumo menyusuri jalan setapak itu, lalu dia melakukannya. Jalan setapa ini mengarahkannya ke jalan kegembiraan abadi dan berkah yang kekal.

Bagaimana mungkin cerita ga jelas tentang pesumo mesum setengah telanjang adalah rahasia hidup produktif dan bahagia? Dimana kebijaksanaannya? Bagaimana pencerahannya?

Ternyata semua hanya metafora. Taman, mercusuar, pesumo, cawat warna pink, pengukur waktu, bunga mawar, dan jalan setapak berlian adalah lambang tujuh kebaikan abadi bagi kehidupan yang tercerahkan.

Tak mungkin cukup saya ceritakan dalam satu tulisan. Insya Allah nanti kita lanjutkan.


Responses

  1. wah, PHP :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: