Posted by: Yoga PS | 5 March 2015

Begalnomics: Kenapa Begal Tetap Ada Meski Sering Dihakimi Warga

Berita tentang kasus pembegalan di daerah Pasar Minggu membuat saya kaget. Perasaan baru seminggu yang lalu kawan seprofesinya di Tangerang harus menjadi steak medium well done karena dijadikan bahan eksperimen resep “Begal Bakar Tangerang” oleh warga yang menangkapnya.

Pertanyaan begonya: apakah mereka tidak takut mengalami nasib yang sama? Apakah tidak ada “begal warning” dari APEM – PANAS (Asosiasi Pembegal – Penadah Nasional) bagi para anggotanya? Apakah tidak ada efek jera bagi calon pembegal di seluruh dunia?

Jawabannya tentu seperti menjawab pertanyaan kenapa kejahatan masih tetap eksis kaya artis, padahal penegakan hukum terus berjalan dinamis. Penjara selalu terisi penuh. Neraka juga katanya bersedia menampung para manusia yang jahat. Tapi namanya juga manusia, selama ada kesempatan di tengah kesempitan, ya milh kesempatan. Coba adanya kesempatan atau dana umum, pasti milih dana umum. (Aduh koq malah ngomongin monopoli)

Demikian juga dengan pembegal. Saya yakin mereka tahu risiko diamuk warga dan dipaksa melapor ke malaikat izrail sang pencabut nyawa. Kasus begal dijadikan menu “begal guling” oleh warga sudah terjadi sejak lama. Tapi toh, beberapa bulan kedepan, saya yakin kasus pembegalan masih akan terjadi.

Secara ekonomi, setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan pembegal akan terus berkeliaran di muka bumi. Dua faktor sederhana:

  1. Low barrier to entry – modal enteng
  2. High ROI (return on investment) – hasil mentereng

Begal: Profesi yang Menjanjikan

Secara ekonomis matematis, menjadi seorang begal adalah profesi yang menguntungkan.

Jika Anda ingin jadi seorang politisi koruptor, maka modal yang Anda butuhkan tidak sedikit: pendidikan tinggi, modal capital untuk mendapatkan kekuasaan (termasuk bagi2 serangan fajar ke konstituen), dan modal sosial kepada calon partai pengusung Anda. Total bisa ratusan juta dan milyaran.

Bandingkan modal sebagai seorang begal. Cukup modal nekat, tampang sangar, fisik yang prima buat berantem, motor kenceng buat kabur, dan senjata tajam seadanya. Untuk sekali beroperasi sebagai begal, hanya dibutuhkan

tak lebih dari 160 ribu rupiah (asumsi beroperasi berdua). Jika berempat ya 320rb. Murah banget kan?

itung2an begal1

Dan seandainya berhasil, berapa yang mereka dapatkan? Menurut berita di Media Indonesia, motor hasil begalan bisa dijual di kisaran 3 juta untuk bebek, dan 5 jutaan untuk motor ber-cc besar. Nah anggap saja dia sukses membegal motor matic dan dijual 3 juta, maka ROI-nya adalah 1775%!

Jika yang begal punya koneksi lebih dalam, dia bisa bekerja sama dengan pemilik bengkel dan mempreteli bagian sepeda motor untuk dijual secara eceran. Menurut sumber yang sama, dengan metode seperti ini, ditotal-total bisa menghasilkan hingga 15 juta rupiah (tapi saya agak sangsi dengan perhitungannya). Ruarrr biasa bung. Dan proses pembegalan sekaligus kabur dari kejaran petugas bisa dilakukan dalam hitungan jam saja!

itung2an begal2

Bisnis dengan hasil mengkilat dalam waktu singkat ini hanya bisa disaingi oleh bisnis dunia hitam lainnya: prostitusi dan narkoba. Bedanya, dua-duanya ga bisa hanya modal nekat. Prostitusi ga Cuma modal ngangkang. Saya ga’ bisa membayangkan jika Anda nekat menjajakan diri seperti Miyabi meski tampang Anda seperti minyak babi. Disitu kadang saya merasa sedih.

Apakah Begal Tidak Takut Dihukum?

Saya yakin mereka tahu risiko menjadi begal. Risiko ditangkap. Digebukin warga. Dikirim ke akhirat sana. Atau minimal ngamar di penjara. Tapi semua itu risiko profesi. Seorang begal sejati pasti mengerti pepatah:

“What doesn’t kill me, makes me stronger”.

Setiap operasi begal yang berhasil akan menambah kepercayaan diri dalam curriculum vitae mereka. Dan setiap operasi yang gagal akan membuat mereka semakin berhati-hati dikemudian hari.

Seperti kejahatan lainnya, begal adalah sebuah bisnis model. Ia akan tetap ada, selama pasar masih ada. Supply bertemu demand. Selama masih ada motor untuk dicuri, penadah yang menutupi, dan pembeli yang mencari.

Karena motif begal adalah motif ekonomi, yang bisa lakukan adalah mempersempit supply. Dengan terus berdoa dan berhati-hati, menghindari tempat sepi, belajar bela diri, dan membeli asuransi. Seperti kata bang napi di acara tipi masa lalu: Waspadalah! Waspadalah!.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: