Posted by: Yoga PS | 19 April 2015

Sedikit Resep Penciptaan Brand Community

Ditengah dunia marketing yang semakin horizontal seperti saat ini, brand community memegang peranan vital dalam penguatan brand. Peer support influence istilah kerennya. Karena konsumen zaman sekarang, berkat kecanggihan teknologi dan gajet, semakin terkoneksi dengan konsumen yang lainnya.

Revolusi digital membuat konsumen semakin mudah untuk mereview, memuji, merekomendasikan, hingga menghujat dan mencaci maki produk yang mereka gunakan. Dan ditengah bombardir iklan yang mengklaim produk yang dijual adalah “kecap nomer 1”, banyak konsumen menggunakan rekomendasi teman sebagai dasar pengambilan keputusan pembelian.

Untuk itulah brand community berperan penting. Coba bayangkan konsumen brand-brand besar semacam Apple, Harley Davidson, Linux, hingga klub bola macam Manchester United dan AC Milan. Mereka memiliki brand community yang otomatis menghasilkan evangelist. Kaum loyalist yang akan memperjuangkan brand hingga titik darah penghabisan. Berani menghina Harley didepan anak moge yang sedang touring? Anda harus siap-siap dicium. Dicium sama aspal jalanan.

Asyik kan kalo kita bisa punya brand community sendiri. Brand kita ada yang ngebelain, ada yang ngejagain, dan yang paling asyik: mereka rela mempromosikan secara gratis. Brand community ini ada yang lahir dengan sendiri, tanpa campur tangan marketer, tapi juga bisa hasil settingan pemasar.

Bagaimana cara membuatnya?

Saya mendapat brand community development model dari Yuswohady lewat sebuah training community management pertengahan maret lalu. Jika diringkas, menurut saya ada 3 bagian besar: Siapa, Apa, dan Bagaimana.

Siapa.

Siapa yang Anda sasar? Apakah Anda ingin menyasar semua konsumen? Coba pikir lagi. Karena komunitas ibu-ibu akan berbeda pendekatannya dengan kaum eksekutif muda.

Apa.

Komunitas Anda itu, nantinya bakal ngapain sih? Apakah Cuma hang out bareng. Ataukah seminar bertukar pikiran? Atau bersama-sama memikirkan cara menguasai dunia?

Bagaimana.

Bagaimana mewujudkannya? Ini sudah mulai masuk ke tataran teknis. Bagaimana Anda menghubungi mereka? Bagaimana mendapatkan member baru? Pesan-pesan apa yang ingin brand sampaikan?

Untuk lebih mudahnya, mari kita berandai-andai. Andai kita ini berjualan batu akik. Dan untuk menciptakan diferensiasi, kita ingin menciptakan batu akik dengan nama brand: Akik Sakti. Setiap batu akik yang kita jual, ada signature AS di batunya.

Nah, kita ingin memasarkan batu Akik Sakti ini lewat pendekatan komunitas, sekaligus menciptakan loyalist pecinta batu akik dengan merk Akik Sakti. Jika kita breakdown, ada 7 langkah yang harus kita lakukan.

7 Steps of Community Management Model

Langkah pertama adalah menentukan: siapa target pasar Anda. Untuk itulah kita butuh segmenting. Menentukan segmen yang kita sasar. Anggap saja kita ingin menyasar kaum pria mapan berumur 40 tahun keatas yang menyukai batu akik.

Kedua: tentukan komunitas yang akan disasar. Kaum pria mapan berumur 40 tahun keatas itu luas. Mungkin kita bisa mempersempit dengan pria umur 40, berada di kota besar, berada di level direktur atau manajerial perusahaan.

Langkah selanjutnya adalah menentukan common interest (tiga) and needs (empat). Pada tahap ini consumer insight sangat dibutuhkan. Contohnya ada insight jika umur 40 adalah masa “puber kedua” dan masa keemasan dalam hidup. Yang mereka butuhkan adalah aktualisasi diri dan pengakuan atas keberhasilan.

Langkah kelima: menghubungkan brand value dengan community value. Karena kita tahu pria umur 40 butuh lambang kesuksesan, kita bisa mengasosiasikan batu akik sakti dengan kesuksesan dan pencapaian diri.

Langkah keenam, merumuskan content activity. Apa pesan yang ingin kita sampaikan. Karena kita ingin menghubungkan akik sakti dengan kesuksesan, maka kita bisa menciptakan kegiatan yang berkorelasi dengan “sukses” dan pencapaian hidup di umur 40 tahun. Kita bisa saja melakukan pameran batu Akik Sakti disambi gathering bulanan dengan mengundang pengusaha yang akan berbagi tips menuju sukses.

Langkah terakhir, sinergized activity. Kita tidak bisa hanya melakukan stand alone activity. Tapi pendekatannya harus 360 derajat. Kombinasi offline-online, direct-indirect, ablove the line dan below the line.

Pameran Akik Sakti harus ditunjang dengan program community yang teratur, mekanisme membership yang jelas, newsletter yang konsisten, gathering plus sharing, digital conversation, hingga media amplification.

Jika kita sabar dan tulus, insya Allah para bos-bos penggemar batu akik akan melihat Akik Sakti sebagai batu akik yang berbeda. Akik yang harus dikoleksi, karena akik yang terbukti membawa tangga kesuksesan.

7 steps of community development (Yuswohady - inventure)

7 steps of community development (Yuswohady – inventure)

Untuk materi training community management selengkapnya, bisa di download disini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: