Posted by: Yoga PS | 11 September 2014

Semoga Fikri Dapat Nobel Ekonomi!!!

“Cuk, buku lo berapa juta?”

“Hoi, 49.000”

“Mahal amir. 75 rebu donk”

“Boleh”

“Mana kirimin norek lu”

“Alamat aja dulu”

“Gw beli versi fotokopian ada ga?”

“No rek gampang”

“Wah uda jadi cowok gampangan lu. Gw lupa alamat kos”

“Kantor aja”

“Ntar dikira gratifikasi”

“Taik”

Transekrip (bingung cuk how to say transcript in bahasa) diatas bukanlah rekaman percakapan Menpora yang ketipu beli sepeda fixie, apalagi dialog di video PNS Bandung. Tapi percakapan singkat saya dengan Fikri, salah satu penulis keren favorit saya.

Kenapa saya bilang Fikri keren?

Karena Fikri itu teman kuliah saya. Sedangkan saya kan orang ganteng. Orang ganteng hanya berteman dengan orang keren. Sehingga otomatis, Fikri itu keren. Sungguh silogisme yang agak tidak logis, tapi tetap keren.

Dan Fikri itu salah satu mahasiswa FEB U*M yang paling keren. Jago bolos pas SMA, rambut gondrong, jeans belel, badan kurus junkies. Kalau ke kampus bawa buku kuliah dikira mau ngamen, sedang kalo bawa gitar malah dikira mau kuliah. Fikri ga cuma punya darah seni. Ditubuhnya mengalir air seni.

Absurdity, (judul bukunya pake koma cuy) adalah kompilasi kontemplasi kehidupan penulis dengan nama lengkap Fatihatul Insan Kamil Ramadhani Imama ini (nama Fikri adalah sebuah akronim). Berisi “ke-absurd-an” perjalanan hidupnya seperti ga pernah belajar malah lulus ujian, percintaan yang mengenaskan, suka duka mahasiswa, dan tentu saja fenomena pergaulan bebas kos-kosan Jogja (sekarang zamannya perdagangan bebas, masa pergaulan ga bebas).

Coba baca salah cerita keren fikri:

Karena tidak banyak teman yang memilih melakukan ujian di Jogja, kepergian saya disambut bahagia oleh teman-teman. Seperti biasa, orang Indonesia selalu saja meminta oleh-oleh kalau kerabatnya bepergian.

“Fik, lo mau ke Jogja ya? Beliin gue oleh-oleh dong, Bakpia ya!”

“Iya kalau bisa gue beliin deh buat lo”

“Asik nih ke Jogja! Fik, beliin gue batik dong!”

“Iya nanti kalau sempet gue jalan ke Malioboro”

“Fik, beliin gue lumpia dong”

“Lumpia itu dari Semarang, bego!”

Mereka yang meminta oleh-oleh sepertinya lupa kalau saya pergi ke Jogja bukan untuk pelesir. Saya ujian! Saya ingin melanjutkan pendidikan! Saya ingin berguna bagi bangsa dan tanah air tercinta! Saya ingin Indonesia lebih maju! Saya mengetik ini dengan posisi tangan ke dinding, badan condong miring, posisi kepala menghadap langit, dan sinar matahari menerpa wajah sebelah kiri membentuk siluet yang indah.

Setelah merampungkan absurdity, aksioma alam bawah sadar saya bertambah satu:

Jika fikri bisa menulis buku Teori Portofolio dan Analisis Investasi seperti menulis absurdity, dia pasti dapat nobel ekonomi.

absurdity

 

Advertisements
Posted by: Yoga PS | 31 August 2014

Soso

Terlahir dengan nama Joseph Djugashvili. Pada awalnya sang Ayah adalah pembuat sepatu handal. Namun karena pengaruh pergaulan, dia menjadi pemabuk kasar yang suka memukuli keluarganya. Joseph adalah anak ketiga. Kedua kakaknya, Yakov dan Giorgi, meninggal sewaktu bayi. Tragedi yang membuat sang ayah bersumpah melakukan perjalanan suci ke Geri, demi kesehatan sang bayi.

Soso, panggilan kecil Joseph, adalah anak yang rapuh secara fisik, tetapi sangat cerdas. Suka belajar. Juara kelas dan menjadi favorit guru karena bakatnya di paduan suara sekolah gereja. Hal positif yang ditentang Beso, ayahnya, yang ingin dia menjadi pembuat sepatu seperti dirinya.

Seringkali sang Ayah akan datang ke sekolah untuk marah-marah dan memukuli Soso. Dan para guru akan bekerja sama untuk menyembunyikan dia dan meyakinkan Beso jika Soso tidak ada di sekolah hari ini.

“Mama, biarkan aku pergi sekolah, atau guru Illuridze akan memberiku nilai buruk..”

Rengek Soso suatu hari ketika dia sakit parah tertabrak kereta kuda. Biarpun sakit keras, Soso tetap rindu sekolah.

Berkat kerja keras sang Ibu, Soso bisa masuk seminari dan menjadi calon pendeta. Di sekolah elit itu dia kembali menjadi bintang. Nilai-nilainya mengagumkan. Menjadi pemimpin kelas meski berbadan kecil.

Semangat belajarnya semakin menggebu-gebu. Dia menghabiskan waktu luang dengan membaca dan selalu menyelipkan buku di ikat pinggangnya. Soso selalu membaca. Keke, sang Ibu mencatat jika Soso takkan tidur sebelum dini hari dan akan terus berkutat dengan bacaannya.

“Waktunya tidur” kata Keke, “Tidurlah – sudah mulai fajar”

“Aku sangat suka buku ini, Mama. Aku tidak bisa berhenti membaca..” dan saat intelektualitasnya semakin bergejolak, kesalehannya semakin sirna.

Menjadi Marxist

Soso berkenalan dengan tiga orang anak pendeta – Lado dan Vano Ketskhoveli dan Mikheil Davitashvili. Dari mereka lah Soso mendapat akses ke berbagai “buku terlarang”. Mulai dari Origin of Species dari Darwin, pemikiran Karl Marx, hingga sastra nasionalis Georgia Khevsur’s Motherland karya Eristavi. Buku-buku yang pada akhirnya membuat calon pendeta menjadi seorang penentang Tuhan.

Pada 13 Februari 1892, guru-guru seminari menyuruh anak didiknya untuk menonton hukuman pancung. Tiga pencuri sapi, yang melarikan diri dan membunuh polisi, akan dihukum mati hari ini. Tapi bagi Soso, dia tahu jika ketiga terdakwa ini hanyalah tiga petani yang sudah putus asa ditindas tuan tanah dan melarikan diri ke hutan.

Soso, yang bisa menyanyikan Mazmur dengan sangat indah merasa heran, bukankah Musa berkata: “Kalian dilarang membunuh”?.

Teman-teman seminari-nya berdebat:

“Apakah mereka masuk neraka?”

Soso, yang pada akhirnya menjelma menjadi Stalin sang diktaktor Soviet menjawab yakin:

“Tidak. Mereka sudah dieksekusi dan akan tidak adil jika mereka dihukum lagi”.

Tapi pertanyaan selanjutnya: Jika Tuhan Maha Adil, mengapa ia membiarkan semua ini? Mengapa harus ada Tsar yang menindas rakyat? Mengapa Russia harus menduduki Georgia? Mengapa ada orang miskin disaat ada orang yang menjadi semakin kaya?

“Tuhan tidak adil. Dia tidak benar-benar ada. Kita sudah ditipu. Kalau Tuhan ada, dia akan membuat dunia menjadi lebih adil”. Seru Soso kepada kawannya, Grisha.

Intelektual Seumur Hidup

Membaca biografi Stalin Muda karya Simon Sebag Montegiore ini seperti menemukan sisi lain seorang commissar Soviet. Siapa sangka, Stalin yang memerintahkan pembunuhan ribuan nyawa saat teror besar adalah seorang seniman dan intelektual.

Anda akan mengikuti kisah hidup anak pembuat sepatu yang hampir menjadi pendeta, penyair yang puisinya dibukukan saat masih berumur belasan tahun, pekerja departemen metereologi merangkap agitator, perampok untuk partai, hingga menjadi commissar lengkap dengan berbagai cerita affair Stalin dengan banyak wanita.

Tapi ada yang saya kagumi dari diktator tangan besi ini: semangat belajar yang tak pernah mati. Kemanapun Stalin pergi, dia akan membawa setumpuk buku. Bahkan dia mampu mengubah masa hukuman penjara di Batumi menjadi universitas kecil, dengan jadwal kuliah dan bacaan wajib untuk tahanan lain.

Ketika Stalin mendapat pengasingan ke Siberia dan kemudian pindah ke lingkaran Arktik kutub utara, hal yang dia inginkan tetaplah sama: buku dan pengetahuan baru.

“Temanku,” tulisnya kepada Zinoviev, “Salam hangatku kepadamu.. Aku menunggu buku-buku… Aku juga memintamu untuk mengirimiku beberapa jurnal bahasa Inggris (edisi lama ataupun baru tidak masalah – untuk bacaan saja karena tidak ada bacaan berbahasa Inggris di sini dan aku takut, tanpa berlatih, aku akan kehilangan semua keterampilan bahasa Inggris yang sudah kupelajari).

Kombinasi kecerdasan seorang pemikir dan kekejaman seorang perampok membuat Stalin mampu menyingkirkan musuh-musuhnya dan mendirikan Uni Soviet. Bahkan ketika sudah berusia 70 tahun dan menaklukkan Berlin, Stalin tetaplah seorang pembelajar.

“Lihat aku”, kata Stalin sekitar tahun 1950, “Aku tua dan aku masih belajar”.

Buku-buku perpustakaan Stalin semuanya dengan hati-hati diberi catatan dan coretan kecil. Tanda sering dibuka dan dibaca.

Karena itu izinkan saya meniru Stalin:

“Aku muda dan masih harus banyak belajar”.

yang mau buku ini silahkan tinggalin alamat dibawah ya :) siapa cepet dia dapat

yang mau buku ini silahkan tinggalin alamat dibawah ya 🙂 siapa cepet dia dapat

Posted by: Yoga PS | 22 June 2014

Ka’bah Dekat Rumah (6): Hello Brother!!!

Saya berhasil meninggalkan imigrasi paling sakti sekitar jam 12 siang. Cuaca kering menyambut. Parah. Panas dan gerah. Pantes onta punya punuk. Buat nampung air biar ga kehausan. Saya juga punya punuk. Sayangnya ditaruh di perut.

Karena keringetan dan belum mandi, saya putuskan untuk numpang mandi disalah satu toilet disekitar bandara. Bermodal tampang cuek meski diliatin petugas kebersihan. Setelah merasa segar dan berganti baju bersih, waktunya sholat dhuhur dulu.

Tujuan selanjutnya adalah Madinah. Loh koq ga langsung ke Mekah? Ngapain jauh-jauh ke Madinah dulu? Koq ga miqat di Jeddah? Karena ilmu agama saya pas-pasan, saya percaya aja kata berbagai buku umroh dan nasihat travel agent saya. Katanya miqat di Jeddah hanya boleh untuk Ahlul-Jeddah. Alias warga jedah asli. Karena KTP saya masih Sidoarjo ya udah, ke Madinah aja dulu.

Nah sodara-sodara, bagaimana cara ke Madinah? Jarak Jeddah Madinah cukup jauh. Sekitar 450 km. Pilihannya bisa naik pesawat, bis, taksi, atau onta biar kaya musafir jaman dulu. Berdasarkan hasil penerawangan saya bersama mbah Google, harusnya ada bus umum yang melayani rute Jeddah-Madinah. Namanya Saptco (Saudi Public Transport Company). Bus ini yang jadi tujuan mode transportasi saya.

No English Please

Karena semua jamaah yang landed sudah dijemput travel masing-masing, saya doank yang bengong bingung mau ngapain. Saya coba tanya2 ke petugas bandara. Tapi jawabannya:

“La English. La English” ternyata hampir semua petugas tidak bisa berbahasa Inggris.

Saya coba datangi supir taksi yang mangkal di sekitar bandara.

“Where is bus station to Madinah?” tanya saya baik-baik.

“Madinah? 200 riyal” kata dia sampai menggunakan bahasa Inggris ala kadarnya ditambah body language bahasa tarzan.

“No, I want to go to city. Bus terminal. Not madinah!” kata saya berusaha menjelaskan.

Tapi tetep aja. Keterbatasan bahasa komunikasi dimana saya ga bisa bahasa arab dan dia ga ngerti bahasa inggris membuat pembicaraan kami seperti orang bisu lagi ngobrol ama orang tuli. Ga nyambung hahaha.

Saya coba berpindah tempat, berganti supir taksi. Tapi hasilnya sama aja. Saya ga bisa menjelaskan kalo saya mau naik taksi mereka ke terminal bus di kota, untuk ke Madinah. Semua minta hal yang sama: Madinah 150-200 riyal.

Setelah capek muter2, akhirnya saya ngaso dulu. Sambi berdoa dan memikirkan plan B, harus membayar 150 riyal (sekitar 600rb) untuk taksi ke Madinah.

Sambil duduk saya berdoa. Ya Allah, sudah jauh-jauh kesini masa ga bisa ke Madinah. Tolong bantuin donk. Kan mahal banget kalau belum-belum ngeluarin duit 150-200 riyal atau sekitar 600-700rb. Saya berdoa sekhusuk2-nya. Kata orang sholeh, doanya orang kesusahan itu lebih didengar Tuhan. Kebetulan saya orang susah. Susah kurus lebih tepatnya.

Ibrahim

Yo wes lah, yang penting sudah berdoa. Waktunya berusaha. Saya coba datangi lagi. Ada taksi yang lagi cari-cari penumpang. Dan saya baru ingat, di hape kan ada Tourist Language! Itu loh, applikasi android yang bisa diunduh gratis berisi percakapan sehari-hari dari berbagai bahasa seluruh dunia.

Lewat aplikasi ini ada bantuan bahasa bagi turis yang ingin bertanya hal-hal sederhana. Mulai dari berapa harga barang, sampai lokasi hotel. Dan disitu juga ada pertanyaan mengenai transportasi. Bus! Yah itu dia.

Nah kebetulan juga ada supir taksi yang jemput bola menawarkan tumpangan.

“Where is the bus station?” kata saya.

“Bus?” kata dia.

Langsung saya sodorkan hape dan saya putarkan audio translation dalam bahasa arab (aplikasi ini ada fasilitas speech dalam bahasa asing). Eh tiba-tiba ni orang langsung semangat.

“Hello brother..”. Tak lupa nyerocos dalam bahasa arab. Rupanya dia kira kalo suara aplikasi adalah suara telpon sodara saya. Dia pikir sedang ngobrol ama orang beneran! Hahahaha langsung saya ngakak ga ketahan.

“Hello brother.. Hello brother…” dia mulai panik dan mengembalikan hape saya karena mengira perbicaraan telpon sudah terputus. Saya masih ketawa-ketawa aja. Ga tahu mau njelasinnya dalam bahasa arab.

Ha-fila. Nah itu dia bahasa arabnya bus. “Where is the ha-fila?” kata saya lagi.

“No.. me taksi” kata dia menjelaskan kalau dia supir taksi. Sebenarnya saya juga tahu kalo dia driver taksi dan bukan penjual bakso atau artis film porno. Tapi alhamdulilah abang taksi ini berinisiatif mencari seorang pekerja orang Indonesia! Alhamdulilah akhirnya ga perlu bicara bahasa tarzan terus!

Bertemulah saya dengan Aa’ Zainal. Orang Tasik yang udah 3 tahun kerja di airport. Setelah saya cerita kalau ada makhluk ganteng yang baru landing dari Indonesia dan butuh tumpangan ke Madinah, dia segera memerika passport saya.

“Coba kasih ke orang disebelah sana. Bilang kalo mau ke Madinah” kata bujang yang hanya pulang setahun sekali ini.

Dia menunjuk sekawanan orang berbadan besar, berkulit gelap, dengan gamis putih yang sedang duduk di mobil listrik mirip caddie car. Busyet, masa baru datang udah ketemu asykar. Tapi karena ga ada pilihan lain dan orang yang berniat melakukan pelecehan seksual kepada saya pasti berpikir dua kali, akhirnya saya berani.

Saya datang, menunjukkan paspor dan meminta tolong untuk tumpangan ke Madinah. Ternyata mereka bukan asykar. Tapi semacam agen bus. Mengatur kedatangan dan jadwal keberangkatan bus penjemput jamaah. Setelah di cek sebentar, laki-laki yang mengenakan kemeja berdiri, lalu berteriak:

“IIBBRAAHIIMMMMM!!!!” woww suaranya uda kaya macan yang mengaum membelah keramaian bandara. Ibarat film Kungfu, dia baru saja mengeluarkan jurus “Auman Singa pemecah gendang telinga”.

Tak berapa lama datanglah seorang Om-om dari Indonesia, mengenakan rompi, dan berbadan subur. Setelah tahu duduk permasalahannya, dan mengecek paspor saya, dia menoleh sebentar:

“Nanti ikut saya”. Alhamdulilah…

Jika Tuhan pernah membantu nabi Musa dengan membelah lautan. Hari itu Tuhan membantu saya dengan memberikan tumpangan.

Peta jeddah ke Madinah

Peta jeddah ke Madinah

Posted by: Yoga PS | 1 June 2014

Ka’bah Dekat Rumah (5): Imigrasi Paling Sakti

Setelah mendapat visa, baru sadar: tinggal 2 hari dan saya belum nyiapin apa2!

Baju belum di packing, ihram belum nyari, duit riyal belum dapat, disana tinggal dimana juga ga tahu! Ini disebabkan saya sempat meng-cancel salah satu bookingan hotel di mekah. Karena based on info dari Om, hotel yang saya booking jauh dari masjidil haram. Memang waktu saya book harganya lumayan miring, bintang 4 dengan harga 500rb an/malam.

Dari Jeddah ke Madinah naik apa? Ga tau. Ntar nginep dimana? Ga tau. Emang bisa bahasa arab? Ga tau. Bisanya Cuma al-fatihah ama amin. Jadi boleh dibilang, saya bonbis aja. Bondo bismillah. Yang penting bukan bonbin. Kebon binatang.

Hari sabtu saya ambil visa sekalian ke money changer. Sengaja ga bawa duit banyak. Ya karena emang duit saya ga banyak hehehe. Yang penting cukup buat makan dan transportasi. Akomodasi? Pintu masjid masih menanti hihi. Pengalaman backpacking dan cita-cita menjadi james bon (jaga mesjid dan kebon) membuat saya bisa tidur dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja (dengan gaya apa aja?).

Urusan baju ihram saya dapat dari Om yang nolongin ngurus visa. Masih ada logo bank didalamnya. Buku panduan haji dapat sumbangan dari temen kantor (makasih Mbak Satyo!). Translator arab dapat dari mbah google setelah diberitahu temen (tq cuk Wana).

Ke terminal rawamangun dianter kakak. Ga pake tuh rombongan sekampung. Ga pake selametan. Ga ada sholawatan. Ga pake ngundang tetangga se-RT. Berangkat ya berangkat aja. Pokoknya saya Cuma bawa satu ransel backpack, dan satu ransel kecil wadah paspor.

Di terminal 3 saya ketemu rombongan dari tasik. Sekitar 20 orang. Umroh juga. Alhamdulilah ada temennya. Jadi rame. Mereka sengaja naik AirAsia untuk menekan biaya tiket. Satu orang cukup bayar 17 juta. Beda misalnya kalo naik full service carrier. Biaya umroh bisa membengkak.

Penerbangan saya ke Kuala Lumpur (KL) dulu. Sampai KL agak malam. Masih mendarat di KLCC. Sekarang AirAsia pindah ke klia2. Lebih baru dan megah katanya. Belum sempat kesana. Setelah menunggu sekitar 3 jam yang saya isi sambil tidur2 ayam dan cari makan, pesawat Airbus 330 yang membawa ke Jeddah akhirnya tiba.

Latihan Kesabaran

Di pesawat saya bersebelahan dengan ibu dari Malaysia. Dia kaget saat tahu kalo saya solo backpacker. Langsung deh dikasi wejangan tips and trick selama disana. Tak cukup disitu, eh saya malah dikasi duit! Katanya setelah saya cerita, dia jadi inget ama anaknya. Meski muka saya mungkin mirip ama supirnya hehehe.

Penerbangan berlangsung smooth. Setelah menempuh 8 jam penerbangan kami landing sekitar jam 7 pagi di terminal haji. Kalo negara lain kan biasanya lagsung cepat-cepat ke imigrasi. Saya coba berinisiatif turun. Baru nyampe bawah langsung disuruh balik ama petugas. Katanya belum waktunya.

“Go back! Go back!” kata yang jaga.

Akhirnya saya kembali keatas. Menunggu bareng jamaah umroh yang lain. Sambil menunggu ada yang membeli sim card, ada yang kekamar mandi, ada yang tiduran sampai tidur beneran. Berjam-jam kami harus menunggu. Sampai akhirnya ada pengumuman bahwa kami boleh turun. Penantian belum berakhir sodara2. Petugas imigrasi yang mirip Ridho Roma sudah menanti. Saya kaget. Koq bisa ya orang arab wajahnya ke-Ridho roma2-an?

Berdasarkan bayangan saya, antri imigrasi sangatlah sederhana. Seperti pengalaman negara lain yang pernah saya kunjungi. Kita mengantri, petugas imigrasi akan memerika paspor, melakukan scanning sidik jari, foto, lalu men-cap paspor disertai senyuman: “Welcome to Saudi Arabia..”.

Tapi realita tidak seindah real madrid. Kami harus ngantri lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. Saya sampai mikir, Ini ngantri imigrasi apa antri mau di hisab sih? Lama banget. Saya ga bisa bayangin waktu musim haji. Pasti suasana kaya di padang ma’syar. Orang2 campur baur dari segala penjuru dunia. Apakah prosesnya selama ini?

Imigrasi Sakti

Setelah saya selidiki, proses lama ini terjadi karena sistem kerja petugas imigrasi itu sendiri. Prosesnya gini:

Pertama, dia akan cek tuh orang punya hape. Ada pesan whatssapp atau nggak. Kedua, Anda akan dilirik sebentar. Ketiga, balik lagi lihat hape, mungkin ada notifikasi facebook. Keempat, paspor Anda akan dilihat, diraba, dan diterawang. Untung bukan diputer, dijilat, dicelupin.

Kelima, terus ya balik lagi ke hp dia. Satu menit. Ada balasan whatsapp. Dia ketik2 bentar. Ada balesan lagi. 3 menit berlalu dan dia ketawa2. Balas lagi. Hening. Sudah 5 menit. Yang diajak whatsapp belum bales. Dia akhirnya noleh lagi ke komputer.

Baru mau input data, eh bangke ada balesan whatsapp lagi. Lupa ama komputer. Ga inget ama paspor. Kembali lagi ke step pertama. Begitu terus hingga dia mulai bosan dan agak sadar kalau ada manusia yang menempuh 8 jam penerbangan dan butuh satu stempel simpel. Tinggal ngecap doank apa susahnya ya akhi?.

Ritual ini berlangsung belasan hingga puluhan menit tergantung amal perbuatan Anda selama di dunia. Kalo mau ngantri saran saya bawa kaki palsu buat cadangan kalo pegel ya hehehe. Bagi saya pribadi, ini adalah imigrasi paling sakti yang pernah saya kunjungi. Petugas yang biasanya dipaksa ramah dan penuh senyum, disini dibebaskan berbuat sekehendak hati.

Setelah 5 jam menunggu, iya 5 jam! LIMA JAM! el-i-em-a je-a-em (landing sebelum jam 7, baru bisa keluar imigrasi pas dhuhur), akhirnya saya bisa merasakan sengatan matahari Saudi. Ternyata beda ya ama matahari di Indonesia. Di Saudi matahari-nya panas. Sedangkan matahari di Indonesia kan ber-AC dan sering ngasih diskon 70% kalau akhir tahun. Gara-gara kepanasan jadi nulis guyonan garing gini.

Suasana antrian imigrasi. Ga terlalu rame tapi lama sekali

Nah, permasalahan hidup baru dimulai sodara-sodara. Bagaimana cara pergi ke Madinah?

Minggu depan insya Allah akan saya ceritakan bagaimana bisa saya dapat transportasi nyaman ke Madinah, 6 jam perjalanan, disertai wisata jalan-jalan, dengan harga: gratis!.

Karena selalu ada jalan dari Tuhan, bagi mereka yang ingin berkunjung ke rumah Tuhan.

Posted by: Yoga PS | 25 May 2014

Ka’bah Dekat Rumah (4): Doa Meminta Visa

Setelah mendapat tiket, maka permasalahan umroh selanjutnya adalah visa dan akomodasi. Urusan akomodasi cukup mudah. Berbekal koneksi internet, mouse, dan internet banking, kita sudah bisa membook hotel diseluruh dunia lewat website. Pilihannya antara lain agoda dot kom, booking dot kom, hostelworld dot kom, weego dot kom, wisma moro seneng dot kom (loh koq hotel gituan?), dan berbagai situs meta search lainnya.

Untuk urusan visa, cukup berat tantangannya. Bagi yang belum tahu, visa bukanlah lawan mastercard, apalagi cadangan devisa hehe. Visa berasal dari bahasa latin “carta visa”, yang berarti “dokumen sudah diperiksa”. Intinya kita butuh ijin berupa visa untuk bisa masuk kesuatu negara. Kulo nuwun lah kalau kata orang jawa.

Pada suatu hari yang cerah saya mendatangi kedutaan besar Saudi Arabia di daerah MT Haryono. Dan saya ditolak masuk!. Mungkin saya punya modal tampang pendatang haram. Di gerbang sekuriti saya mendapat wawancara singkat soal maksud tujuan kedatangan.

Dengan polos saya jawab “Mau ngurus visa umroh”. Eh ternyata sodara-sodara, kedutaan saudi tidak menerima pengurusan visa umroh. Semua harus melewati travel agent!

Koq lucu ya? Sejak kapan ada kedutaan besar yang menolak mengurus permohonan visa dan malah mengoper ke travel agent? Jangan-jangan saya kena tipu atau ada permainan orang dalam untuk mengejar fulus?

Akhirnya saya googling-googling sebentar. Tak lupa tanya teman yang bapaknya kerja di departemen agama. Jadi ternyata benar, Kedutaan Saudi tidak menerima pengurusan visa! Mampus saia… Jadi menurut bapak teman saya yang pensiunan depag dan pernah bertugas di Saudi, zaman dulu kedutaan menerima pengurusan visa umroh. Tapi ternyata banyak sekali orang yang menggunakan visa umroh untuk mencari pekerjaan disana. Istilahnya, jadi pendatang haram.

Karena capek mengurusin jamaah umroh gadungan yang sebenernya pingin transmigrasi ke Saudi, pemerintah menyerahkan pengurusan visa umroh ini ke pihak “swasta”. Which is travel agent. Jadi kalo ada apa-apa, Saudi tinggal mem-blacklist travel agent yang jamaahnya jadi pendatang haram. Efeknya, visa jadi tambah mahal, tapi benar-benar orang yang niat umroh yang dapat.

Saya mulai mencari-cari travel agent yang bisa ngurusin visa. Ada beberapa travel yang saya hubungi, dan semuanya sama. Sama-sama nolak saya. Hahaha. Semua mengaku tidak menerima solo backpacker. Ada sih satu yang menerima, tapi dengan harga yang lumayan. Sekitar 1,5-2 juta juta rupiah. Tapi saya masih ragu-ragu soal kredibilitasnya. Alamatnya aja ga jelas.

Lucunya lagi, ternyata visa tidak bisa diurus dari jauh-jauh hari. Kalo mau berangkat bulan February 2014, diurusnya harus bulan January 2013. Ga bisa tuh apply visa dari June 2013 misalnya. Dan kita Cuma dapat ijin 30 hari stay. Beda misalnya dengan visa Australia yang berlaku untuk setahun dan juga multiple entries.

Hingga H-2

Ternyata benar silaturahmi membawa rezeki. Alhamdulilah saya punya om yang kerja di salah satu bank syariah dan sering mengadakan umroh dengan nasabahnya. Dari sana saya dikenalkan ke travel agent di salah satu hotel berbintang di daerah Sudirman.

Di sini biaya-nya hanya sekitar 1 juta. Terjamin pula karena nasabahnya kebanyakan orang berduit. Mereka sebenarnya juga tidak menerima solo backpacker. Tapi karena mendapat jaminan Om, dan body saya ga ada bagus2nya untuk dijual ke pasar gelap, mereka setuju. Saya bayar bulan December 2013. Untuk berangkat Februari 2014.

Hari berganti hari. Berganti minggu. Menuju bulan. Koq visa saya belom keluar-keluar juga? Ternyata karena status saya cuma single, saya harus menunggu rombongan travel yan lain. Saya sudah rajin tanya ke penanggung jawabnya, Pak Eko.

“Gimana nasib visa saya Pak?”

“Sabar mas, masih diurus”.

Gitu terus hingga seminggu sebelum keberangkatan, belum keluar tuh visa. Saya sempat mikir, apa saya kebanyakan dosa ya kalau sampai gagal berangkat. Terbayang kerugian tiket. Padahal udah ijin ke temen2 kantor baru.

Apa jangan2 rezeki saya ga halal sehingga ditolak bertamu kerumah Tuhan? Perasaan udah lama ga ngepet. Ups.. Ngebersihin karpet maksudnya hehe. Saya jadi inget cerita sinetron2 hidayah dimana orang jahat tidak bisa melihat ka’bah. Saya langsung cek bagian perut, alhamdulilah belum keluar belatungnya.

Doa Adalah Senjata

Jumat malam, hari terakhir pengurusan karena tiket saya hari Minggu. Malam itu saya berdoa sekhusyuk-khusyuknya. Kayaknya perlu tetes mata biar dikira berkaca-kaca. Saya datengin masjid. Malaikat mungkin heran. Tumben ni bocah main. Saya sedekahkan semua uang di kantong saya. Malaikat mungkin mikir, taruhan bola kan belum ada?.

Disana, saya memanjatkan doa sederhana:

Ya Allah yang Tuhanku,
Disini hamba-Mu mengetuk pintu
Izinkan hamba berkunjung ke rumah-Mu
Mengunjungi kiblat yang selama ini belum pernah hamba lihat

Ya Allah yang Maha Kuasa,
Disini hamba-Mu berdoa
Agar nanti hamba bisa pergi kesana
Tanah suci tempat para nabi berada

Memang benar,
Engkau hanya mengundang orang-orang pilihan
Mereka yang mengerti,
Bahwa iman adalah sebaik-baiknya harta yang sejati

Karena itu, hamba berdoa:

Mudahkanlah
Dekatkanlah
Bukakanlah

Tolong Izinkan hamba berdoa di depan Ka’bah..
Izinkan hamba memenuhi panggilanmu ya Allah..

Selesai berdoa hingga jam 9 malam belum ada kabar. Saya sudah pasrah. Sudahlah, yang penting saya sudah berusaha. Saya kembali ke kantor. Membuat presentasi karena ga jadi cuti. Tiba-tiba sekitar jam 10-an malam ada pesan whatsapp. Dari Pak Eko. Pesan berupa gambar. Ada foto ganteng saya beserta tulisan Omra visa didalamnya.

Langsung saya sujud syukur. Labbaik Allah humma labbaik.

Alhamdulilah dapat visa di hari terakhir!

Posted by: Yoga PS | 11 May 2014

Ka’bah Dekat Rumah (3): Awalnya Adalah Nepal

Anda pasti tahu jika awalnya Columbus tidak berencana pergi ke Amerika. Pinta, Nina, dan Maria. Tiga kapal yang pada mulanya ditujukan menuju India. Tapi toh Tuhan punya rencana. Akhirnya Columbus malah terdampar di Amerika. Begitu juga dengan saya.

Setelah lulus kuliah pada 2011, saya ngacung di Jakarta. Menjadi buruh disalah satu perusahaan iklan asing. Kerjaan saya boleh dibilang gampang-gampang susah, bagaimana cara ngabisin duit klien dengan alasan yang keren: membangun world class brand. Tugas saya membuat rekomendasi media strategy dan membeli space media dengan uang mereka.

Brand2 yang pernah saya tangani kebetulan perusahaan multiinasional semua. Mulai dari shampoo punya Raisa yang jadi sponsor Indonesian Idol, oli dari perusahaan minyak Inggris yang nyeponsorin World Cup di Brazil, badan pariwisata Hongkong, mie Instant asli Indonesia yang menjadi jawara di Afrika dan Timur Tengah, dan LCC Airlines dari Malaysia yang menang Skytrax awards 5x berturut-turut.

Kalau dipikir-pikir, saya bisa berangkat umroh karena Tuhan memberi jalan lewat klien saya ini. Koq bisa?

Booking ke Nepal

Mumpung masih bujang, saya suka traveling. Ingin sekali melihat dunia. Sebulan sekali pasti jalan. Kalau keluar negeri sekitar 3 sampai 4x setahun. Baik karena urusan kantor atau backpackeran. Nah hobby ini bisa sukses terlaksana karena klien saya adalah AirAsia.

Mereka kan the best LCC yang rajin banget ngadain promo. Beberapa kali dalam setahun, mereka akan mengadakan free seat dan diskon gede-gedean untuk forward booking (booking keberangkatan beberapa bulan kedepan). Keuntungan jadi planner brand adalah saya bisa tahu “secret information” terlebih dahulu. Sebelum iklan naik dan promo dibuka, saya sudah tahu rute-rute promonya. Berapa harganya. Dan berapa jumlah slotnya.

Contoh promo Karnaval dengan harga mulai dari nol rupiah. Bener2 nol kalau Anda tahu cara nyari-nya 🙂

Jadi bisa ditebak: malam-malam sebelum promo saya udah siap mantengin komputer, biar dapat tiket termurah. Bawa dupa dan kemenyan biar sukses, dan ga lupa jagain lilin jangan sampai mati. Oke saya memang lebay untuk paragpraph ini.

Sekitar bulan April 2013, mereka mengadakan promo gede-gedean lagi. Big sale kursi gratis untuk terbang sampai tahun depan. Kenapa mereka bisa mengadakan ini? Simple aja. Target keterisian pesawat kan ga 100%, nah ada sisa kursi yang sebenarnya bisa diberikan Cuma-cuma. Jatah kursi inilah yang dipromosikan sampai nol rupiah. Yang dipromosikan juga bukan weekend atau peak season. Rasanya pingin ngebacok kalo ada teman yang tanya: “Ada promo tiket lebaran ga?”.

Awalnya saya bermimpi pergi ke Nepal. Gara-gara abis baca Titik Nol-nya Agustinus Wibowo. Dengan sukses ia menggambarkan Nepal sebagai surga backpacker. Tanah dewa yang dingin. Disertai keindahan alam, keagungan himalaya, dan kekayaan budaya membuat semua penjelajah dunia ingin menjejakkan kaki kesana. Ngebayangin bisa jalan kaki bareng biksu dan Sherpa menyusuri kaki himalaya pasti 27x lebih keren daripada nge-date bareng Raisa di mall.

Buku wajib baca bagi mereka yang mengaku sebagai “pejalan”

Saya masih ingat malam itu malam Senin. Setelah cek harga dan jadwal, saya dapat 1 juta untuk ke Nepal!. Fly thru via Kuala Lumpur. Tiket sudah dibooking. Tinggal cari tiket balik dari Kathmandu. Mau langsung balik via KL lagi atau mbolang ke Myanmar dulu?

Tidak Tahu

Sambil cari-cari info penerbangan balik, tiba-tiba kepikiran:

“Jauh-jauh melihat Himalaya tapi belum pernah melihat Ka’bah?” Bah.. buat apa lah!.

Iseng-iseng saya mencari flight ke Arab Saudi. Sudah bisa fly thru di KL. Ga perlu booking dua kali. Setelah searching2, wah dapat 6 juta pulang pergi! Tanpa pikir lagi, langsung saya booking, dan segera bayar. Good bye Nepal. Namaste-nya tahun depan aja ya!

Setelah confirmed. Saya senang sekali. Terbayang ka’bah didepan mata. Padahal urusan saya masih panjang. Kala itu saya benar-benar tidak tahu.

Saya tidak tahu kalau memiliki tiket belum berarti menjamin keberangkatan Anda.

Saya tidak tahu kalau visa Saudi tidak bisa di-apply lewat kedutaan.

Saya tidak tahu kalau kita harus mengurus lewat travel agent.

Saya tidak tahu kalau travel agent tidak menerima solo backpacker.

Tapi saya tahu: jika Tuhan mengijinkan, tidak ada yang tak mungkin untuk dilakukan.

Posted by: Yoga PS | 13 April 2014

Ka’bah Deket Rumah (2): Lakukan yang Bisa Dilakukan

Awalnya saya tidak menyangka. Bisa berangkat ke tanah suci, melihat ka’bah secara dekat. Siapa yang bisa mengira: Seekor Yoga makhluk hina yang tidak mengerti agama, bukan orang kaya, dan masih banyak dosa, bisa berdoa di depan baitullah. Berdiri di dalam kota suci. Tapi itulah kekuatan Tuhan. Jika ia berketetapan, tidak ada yang bisa melawan.

Cerita kepergian saya juga sebenarnya juga lucu. Dimulai dari doa. Dari keinginan. Harapan. Terus ada kesempatan yang tak sengaja. Tapi banyak orang bilang: itu panggilan. Karena ada orang mau, tapi tidak mampu. Dan ada orang yang mampu, tapi tidak mau. Tapi saya kita percaya: kita semua mampu. Asal kita mau.

Masih teringat saat itu sekitar tahun 2006. Selesai kuliah, saya sholat di musholla FEB (tumben sholat di musholla bro?). Setelah itu iseng-iseng membaca Koran dinding yang ada disana. Republika. Menulis berita tentang haji. Dan sedikit tentang ka’bah. Entah jin apa yang menyambar, tiba-tiba saya menangis. Benar-benar nangis. Ingin pergi kesana.

Terbayang keagungan dan kemegahan ka’bah. Rumah Tuhan. Pasti penuh kedamaian. Pasti menentramkan. Terlepas semua beban keduniawian. Saya juga penasaran, ada apa di dalam kubus batu yang menjadi kiblat sholat manusia sejagat itu? Saya membayangkan bisa memeluknya. Pasti akan sangat senang sekali. Lebih menyenangkan dari membayangkan memeluk Miyabi. Hihihi.

Saya juga sempat protes: kenapa tanah suci koq jauh sekali. Mahal lagi. Kenapa sih ga buka cabang aja? Pasti rame dan menguntungkan. Atau di ekspor untuk pemerataan tempat spiritual di muka bumi gitu, sehingga ga perlu harus ke arab sana. Apa saya bisa pergi kesana? Seorang mahasiswa bego dengan IPK pas-pasan dan duit cuma cukup makan Senin Kamis.

Tapi saya masih ingat qutipan dari film Great Debaters yang sering saya rapalkan berulang:

Kutahu yang Kumau. Eh itu kan slogan jadul minuman soda…

Apapun makanannya, minumnya… kemakan iklan lagi kan T_T.

“Do what you can do, so you can do what you wanna do”.

Lakukan apa yang bisa dilakukan.

Action

Hidup adalah sekumpulan rantaian aksi. Hanya terkadang manusia lupa diri, dan terlarut dalam banyak mimpi. Ingin pintar? Belajar! Ingin kaya? Usaha! Ingin langsing? Olahraga! Ingin lihat orang ganteng? Tatap wajah saya! Duaaarrrrrrrr.

Semua aksi pasti menghasilkan reaksi. Sederhana kan? Tapi memang Sang Pencipta memiliki logika yang berbeda. Jika kita ingin melakukan perjalanan dari point A ke point B, terkadang Tuhan memaksa kita “berputar” ke point C, D, E, F sampai Z, baru kembali ke point B.

Sampai saya lulus dan ngacung di Jakarta. Masih aja belum cukup tuh buku tabungan (buku tabungannya sih cukup, saldonya yang kering kaya padang pasir). Apa iya saya bisa kesana?

Saya memulai rencana umroh saya dengan berdoa, lalu membeli buku panduan haji dan umroh. Tak hanya itu, saya juga membacanya, dan sering mengucapkan lantunan talbiyah. Pikiran saya sederhana saja: kalau belum bisa kesana, setidaknya sudah berlatih untuk kesana.

Lha koq pas nemu patung onta di kantor hehe

Mungkin ini yang disebut Mestakung (meminjam Prof Yohanes Surya) atau law of attraction-nya Rhonda Byrne. Tapi menurut saya, apa yang saya lakukan disebut ikhtiar. Bukan magic. Bukan kekuatan supra natural. Bukan the power of mind.

Karena alam punya hukum yang tak pernah mati: siapa yang menabur, akan menuai. Yang memberi, akan menerima. Dan yang berusaha, akan menemukan jalannya. Dan jalan Tuhan itu ada banyak. Saya harus “kesasar ke Nepal”, sebelum mendapat jalan menuju Ka’bah. Insya Allah akan saya share di tulisan selanjutnya .

Seperti commercial ads inspiratif dari Thailand ini (baru di upload 3 April 2014 lalu sudah 7 juta views!). Yang memberi, pasti menerima.

Posted by: Yoga PS | 23 February 2014

Ka’bah Dekat Rumah (1): Pulang

“Eh gimana umrohnya?”

“Banyak ditolong orang ya?”

“Katanya barang-barang pada hilang?”

“Beneran tidur di WC masjid?”

“Mana foto-fotonya?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini terus ditanyakan teman-teman saya ketika mereka tahu saya sudah kembali. Menempuh perjalanan ribuan kilometer dari tanah suci. Oh ya, bagi yang belum tahu, saya baru saja melaksanakan umroh backpacker pada tanggal 3-11 February 2014 lalu. Tulisan ini dimaksudkan untuk berbagi cerita, banyak cara indah menuju ka’bah.

Awalnya saya tidak ingin bilang siapa-siapa. Cukup keluarga dan temen kantor yang saya tinggalkan saja yang perlu tahu jika saya kesana. Tetapi gara-gara butuh doa karena masalah visa, saya harus meminta bantuan dari teman-teman di dunia maya.

Selebihnya, banyak kawan yang penasaran. Pergi umroh koq backpakeran. Saya tidak menggunakan jasa travel agent. Ga pake hotel. Cuma habis dana ga sampai 10 juta. Lha wong proses umrohnya aja boleh dibilang “nggak sengaja”. Koq bisa? Ya itulah kekuasaan Tuhan. Sabar ya nanti saya ceritakan hehehe (minta doanya yah agar bisa konsisten menulis ditengah ke-sok-sibukan).

Bagi saya perjalanan umroh adalah perjalanan “pulang”. Saya disadarkan tentang titik nol. Saya diingatkan soal makna kehidupan. Apa yang kita cari? Kemana kita akan kembali? Pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat Tuhan dan kemanusiaan yang terus saya tanyakan, sedikit mendapat jawaban.

Perjalanan umroh kemarin begitu kaya akan pelajaran dan peringatan. Melebihi pengalaman saya selama solo traveling melintasi Indonesia ataupun Asia. Mulai dari ditolong orang, tidur di WC masjid Nabawi, kehilangan seluruh barang di Masjidil Haram, berdoa di Multazam, sholat di hijr ismail, hingga ditipu taksi gelap di Jeddah. Benar-benar banyak hikmah yang saya dapatkan. Baik masalah duniawi, maupun urusan ukhrawi.

Disana saya akhirnya sadar:

Ada yang lebih berharga daripada harta.

Ada yang lebih berkuasa daripada tahta.

Ada yang lebih memesona daripada wanita.

Ada yang lebih penting daripada dunia dan isinya.

Apakah itu?

Saudaraku yang tercinta, silahkan datang ke rumah-Nya dan insya Allah Anda akan menemukan jawaban-Nya.

(bersambung)

Perbekalan perjalanan. Foto diambil di bandara Soetta

Posted by: Yoga PS | 2 February 2014

Belitung (3) : Hotel Wallet

Ketika kami datang, hujan tiba-tiba menyerang. Ternyata saya baru tahu, waktu terbaik mengunjungi Belitung adalah saat musim panas! Anda akan disambut cuaca cerah, matahari hangat, dan lautan biru yang tenang untuk direnangi. Jika datang pas musim hujan seperti saya? Wah selamat juga. Berarti Anda harus bersiap-siap menunggu hujan reda berjam-jam sepanjang hari, udara yang dingin, serta lautan ganas dengan ombak kejam yang siap menghanyutkan Anda di tengah lautan.

Itulah yang kami lakukan. Menunggu hujan reda. Menunggu angkutan pergi ke kota. Saya datang pas hari sabtu. Coba datang pas hari Minggu, bisa ikut ayah ke kota. Naik delman istimewa kududuk dimuka. Aduh koq malah nyanyi ya.

Untungnya Sheva sudah melakukan approach ke salah satu pengemudi “taksi”. Eits, jangan dikiran taksi-nya kaya si Burung Biru di kota-kota. Taksi disini berarti mobil plat hitam yang bisa berfungsi sebagai travel. Mengantar kemana saja. Pengemudi taksi, bang Anton, menawarkan ongkos 35 ribu sampe kota.

Seberapa jauh perjalanan dari bandara ke Tanjung Pandan? Sebenarnya tidak  sejauh Jakarta-Amsterdam. Mungkin sekitar setengah jam berkendara. Setelah berunding dan menganggap harga segitu worth it. Kami sepakat. Keberangkatan menunggu landingnya Sriwijaya Air. Kali aja ada penumpang lain. Dan benar, ada penumpang yang ikut taksi bang Anton.

Sekitar jam 9, kami mulai meluncur. Berlima: Saya, Sheva, bang Anton, penumpang Sriwijaya, dan tentu saja: Tuhan.

Safehouse

Selama perjalanan bang Anton banyak bercerita. Tentang betapa terkenalnya Belitung setelah booming laskar pelangi. Dahulu orang-orang tidak tahu dimana Belitung. Sekarang begitu mendengar kata Belitung, hamper semua orang bilang:

“Oh.. laskar pelangi ya..”

Bang Anton juga mempromosikan keamanan Belitung. Disini benar-benar aman! Hampir tidak ada kejahatan. Tak ada pengemis. Tidak ada pencurian. Awalnya saya tidak percaya, tapi akhirnya nanti terbukti juga. Akan saya bahas di tulisan selanjutnya.

Sampailah kami ke tempat temannya si Sheva. Iyon namanya. Aslinya sih Paryono. Iyon tinggal di dekat kelurahan Pal Satu. Kontrakannya di belakang toko mebel. Saya sempat mikir kalo si Iyon ini berbisnis mebel. Atau jadi kuli pabrik mebel (sorry bos, tampang ga bisa bohong hahaha). Ternyata Iyon masih satu almamater dengan Gayus. Iyon anak Stan yang bekerja di Depkeu.

Setelah dropping Sheva, giliran saya untuk menginap di hotel yang sudah di book. Sehari saja. Hotel murah meriah di sekitaran pelabuhan. Hotel Mindanau (kelas melati kw). Sebenarnya ingin menginap di Aston, tapi apa daya bung. Kalo saya nginep di Aston berarti saya harus nyambi jadi kuli pabrik Timah untuk bisa hidup.

Ketika saya datang dan menunjukkan booking brief dari situs booking.com, mbak yang jaga sepertinya ga ngerti mau diapain. Waduh, gimana nih. Setelah dilihat, diraba, dan diterawang selama 10 menit, saya diajak menuju kamar lantai dua. Loh saya koq ga disuruh bayar dulu ya? Mbak-nya koq langsung ngajak ngamar. Jangan-jangan…

Perasaan saya tidak enak.

Dan benar saja. Baru sekitar 5 menit menikmati double spring bed king size, Mbak-nya nongol lagi. Mau selesaikan urusan administrasi katanya. Tuh kan saya belum bayar. Lebih dari itu, ternyata saya salah kamar! Duit booking-nya kurang pula!

Jadi Mbak-nya mengira saya dapat kamar semacam executive room. Tertanyata Cuma standard room. Hilang deh king size bed-nya, berganti single bed dengan ukuran ala kadarnya. Yang lebih parah, harga di website sudah obsolete, kadaluwarsa, dan ga up to date. Saya kudu nambah duit 40 ribu lagi. Walah-walah.

Setelah tiduran saya baru sadar. Ada suara berisik di lantai atas. Suara burung. Seperti walet. Ternyata lantai 3 hotel ini memang digunakan untuk pesugihan burung walet. Apakah saya bisa tidur malam nanti? Kita lihat saja nanti. Itung-itung pengalaman tidur di hotel walet yang membuat saya mengeluarkan extra wallet.

Monumen Batu Satam. Icon Tanjung Pandan

Posted by: Yoga PS | 26 January 2014

Belitung (2) : Betul-betul Kebetulan

“Sendirian ya Mas?” Seorang laki-laki berumur 20an menyapa saya.

Sebenernya saya ingin menjawab dengan jawaban standar: “Berdua, ama Tuhan”. Tapi karena takut percakapan akan terlalu berbau filosofis untuk pertemuan awal, saya hanya menjawab mainstream: “Iya”.

“Baru pertama kali ke Belitung?” Tanya-nya lagi. Ini mau liburan apa konferensi pers ya? Koq ditanya-tanyain melulu.

Karena merasa tidak membawa uang banyak untuk dirampok, dan tidak punya badan seksi untuk dicabuli, saya menjawab dengan ramah dan terbuka. Sambil memasuki arrival gate bandara, kami terus mengobrol. Akhirnya saya tahu kalau namanya Syifa (suka dipanggil Sheva, tapi akhirnya saya suka manggil Shepa).

Dia seorang dokter dari Jogja! Anak UMY lebih tepatnya. Baru lulus tahun lalu, dan bekerja disalah satu medical company yang menyuplai dokter-dokter perusahaan tambang. Karena merasa memiliki “Jogja connection” (saya kuliah S-1 disana :D), kami menjadi cepat akrab.

Eh, bukan pertama kalinya lho saya bisa cepat akrab dengan traveler. Perasaan senasib seperjalanan, sama-sama terdampar di negeri orang, menimbulkan rasa persaudaraan sesama pejalan. Sebuah sikap yang wajar untuk menciptakan koalisi. Toh sama-sama menguntungkan. Bisa jalan bareng, cost sharing, dan tolong menolong jika ada yang ditimpa musibah.

Saya pernah check-in satu kamar dengan traveler wanita yang baru saya kenal 2 jam sebelumnya saat di Sabang Aceh, nemu guide saat tersesat di pasar Hat Yai, dan bertemu partner in crime sampai ditawari hotel gratis saat di Johor Bahru. Intinya: dunia masih dipenuhi orang baik!.

Nah, untungnya saya dan Shepa punya banyak kebetulan. Kebetulan dia ada kenalan Couchsurfing yang mau menerimanya menjadi host, kebetulan temannya bisa menjadi guide, kebetulan dia sudah ada rentalan motor, dan kebetulan dia butuh teman. Lha koq kebetulan saya belum punya kenalan di Tanjung Pandan, kebetulan saya belum ada kendaraan, dan Kebetulan juga saya lagi nyari teman berpetualang.

Akhirnya setelah mengetahui tanggal kepulangan masing-masing, saya dan Shepa sepakat mengadakan koalisi strategic berdasarkan kebetulan-kebetulan yang betul-betul terjadi.

 

Guide book dan CD promosi Departemen Pariwisata yang bisa diambil gratis di Bandara

Next week: kita akan mengunjungi pulau terkecil di dunia!

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

%d bloggers like this: